PSPK – 29 Mei 2026 | Teheran — Suasana kekhidmatan menyelimuti kawasan Universitas Teheran pada Rabu pagi, 27 Mei 2026, ketika Ribuan Warga Iran Gelar Salat Iduladha di tengah Situasi Politik Kawasan LPP RRI yang masih memanas. Salat Id yang digelar secara serentak di berbagai wilayah di Iran tersebut menjadi momentum sakral sekaligus simbol keteguhan masyarakat Iran dalam menghadapi tekanan geopolitik yang berkepanjangan.
Rangkaian ibadah Salat Iduladha di ibu kota Iran dimulai tepat pukul 07.00 waktu setempat. Ribuan jamaah yang telah memadati halaman Universitas Teheran sejak subuh mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh khusyuk. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh seorang qari terkemuka Iran yang melantunkan ayat-ayat dengan suara merdu, menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam di tengah udara pagi Teheran.
Setelah pembacaan Al-Quran, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan syair pujian keagamaan yang menggema di seluruh area kampus. Jamaah yang terdiri dari berbagai kalangan — mulai dari mahasiswa, warga sipil, hingga tokoh-tokoh penting negara — larut dalam suasana religius yang begitu kental. Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber media Iran, termasuk IQNA dan Fars News, menyebutkan bahwa pelaksanaan Salat Iduladha kali ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh militer dan pejabat nasional Iran, menambah keistimewaan momen tersebut.
Khutbah Iduladha: Pesan Ketakwaan dan Semangat Perjuangan
Salat Iduladha di Universitas Teheran dipimpin langsung oleh ulama senior Iran, Ahmad Khatami, yang dikenal sebagai salah satu figur agama paling berpengaruh di negeri para mullah tersebut. Dalam khutbah pertamanya, Khatami menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Iduladha kepada seluruh umat Muslim di penjuru dunia. Ia mengajak jamaah yang hadir untuk senantiasa menjaga ketakwaan kepada Tuhan dengan merujuk pada khutbah bersejarah yang disampaikan oleh Imam Sajjad pada hari Iduladha.
“Ketaatan kepada Tuhan adalah fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Seperti halnya Nabi Ibrahim yang dengan ikhlas bersedia mengorbankan putranya, Ismail, kita pun harus siap menyerahkan segalanya demi perintah Allah SWT,” ujar Khatami dalam khutbah yang disimak oleh ribuan jamaah tersebut.
Namun, yang menjadi sorotan utama dari perayaan Salat Iduladha Iran kali ini adalah khutbah kedua yang disampaikan oleh Khatami. Dalam sesi ini, ulama senior tersebut menyinggung secara gamblang situasi politik dan keamanan Iran yang tengah menghadapi tekanan besar dari konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Khatami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Iran yang turun ke jalan-jalan selama 87 malam berturut-turut sebagai bentuk solidaritas dan perlawanan terhadap intervensi asing.
“Kehadiran masyarakat Iran di jalanan selama 87 malam adalah bukti nyata bahwa semangat perjuangan rakyat ini tidak akan pernah padam. Kehadiran kalian semua adalah wujud nyata kecintaan kepada tanah air dan agama,” tegas Khatami dengan suara lantang yang disambut takbir oleh para jamaah.
Iran Tidak Akan Menyerah
Pernyataan paling tegas dari Ahmad Khatami datang ketika ia menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa Iran tidak akan pernah menyerah kepada musuh-musuhnya. Pernyataan ini disampaikan di tengah eskalasi ketegangan politik di kawasan Timur Tengah yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Ribuan Warga Iran Gelar Salat Iduladha di tengah Situasi Politik Kawasan LPP RRI menjadi semacam penanda bahwa masyarakat Iran tetap solid dan teguh dalam menghadapi segala bentuk tekanan eksternal.
Kehadiran tokoh-tokoh militer dan pejabat nasional dalam Salat Iduladha tersebut turut memperkuat pesan persatuan yang disampaikan oleh Khatami. Kombinasi antara semangat keagamaan dan nasionalisme menjadi elemen kuat yang meresap dalam setiap rangkaian acara perayaan Iduladha di Teheran tahun ini.
Makna Iduladha: Pengorbanan dan Solidaritas Sosial
Iduladha atau Hari Raya Kurban diperingati oleh umat Muslim di seluruh dunia sebagai pengingat akan kisah agung Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan mutlak kepada perintah Allah SWT. Dalam ajaran Islam, pengorbanan tersebut kemudian digantikan dengan seekor domba jantan yang diturunkan dari langit sebagai rahmat dari Sang Pencipta.
Perayaan Iduladha di Iran ditandai dengan penyembelihan hewan kurban — meliputi kambing, domba, dan sapi — yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam. Daging kurban kemudian dibagikan secara merata kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat miskin sebagai wujud nyata solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama. Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya keagamaan masyarakat Iran yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Di berbagai kota lain di Iran, Salat Iduladha juga digelar secara serentak dengan kekhidmatan yang sama. Masjid-masjid besar dan lapangan terbuka dipenuhi oleh jamaah yang ingin merayakan momen sakral ini bersama keluarga dan komunitas mereka. Suasana haru bercampur bahagia menyelimuti setiap sudut kota, dari Teheran hingga ke pelosok daerah.
Iduladha di Tengah Situasi Politik yang Memanas
Yang membuat perayaan Iduladha Iran 2026 ini istimewa adalah konteks politik dan keamanan yang melatarinya. Konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel telah menciptakan ketegangan luar biasa di kawasan Timur Tengah. Namun, justru dalam situasi seperti inilah makna Iduladha — tentang pengorbanan, keteguhan, dan kepatuhan kepada Tuhan — menjadi semakin relevan bagi masyarakat Iran.
Ribuan Warga Iran Gelar Salat Iduladha di tengah Situasi Politik Kawasan LPP RRI bukan sekadar perayaan keagamaan tahunan, melainkan juga sebuah pernyataan sikap kolektif bahwa iman dan persatuan adalah senjata terkuat dalam menghadapi segala ancaman. Kehadiran masif masyarakat di Universitas Teheran dan lokasi-lokasi salat Id lainnya di seluruh Iran menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan rakyat Iran tetap membara, apa pun kondisi yang mereka hadapi.
Ahmad Khatami dalam khutbahnya juga mengingatkan bahwa Iduladha mengajarkan umat Muslim untuk senantiasa rela berkorban demi kebenaran. Nilai-nilai inilah, menurutnya, yang menjadi pegangan masyarakat Iran dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Di tengah situasi politik kawasan yang masih memanas dan penuh ketidakpastian, perayaan Iduladha di Iran berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Ribuan warga yang memadati lokasi salat Id menunjukkan bahwa masyarakat Iran tidak pernah kehilangan jati diri mereka sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, persatuan, dan pengorbanan. Momen ini sekaligus menjadi pengingat bagi dunia bahwa di tengah badai konflik, semangat kemanusiaan dan keimanan tetap menjadi penerang yang tak pernah padam.












