PSPK – 29 Mei 2026 | Umat Muslim di Jalur Gaza menjalani salah satu Iduladha terkelam dalam sejarah mereka. Iduladha di Gaza Dibayangi Perang, Tidak Menyembelih Hewan Kurban LPP RRI — kalimat itu menjadi gambaran nyata dari perayaan yang seharusnya penuh makna spiritual, namun kini berubah menjadi hari yang dipenuhi kesedihan mendalam akibat konflik berkepanjangan yang tak kunjung usai.
Suasana Duka Menggantikan Takbir
Pada hari yang seharusnya diramaikan dengan suara takbir, kegembiraan keluarga, dan aroma daging kurban yang terhidang, warga Gaza justru berkumpul di tenda-tenda pengungsian yang sempit dan tak layak. Di Jalur Gaza, Iduladha tahun ini bukan lagi soal penyembelihan hewan kurban atau jamuan keluarga besar, melainkan tentang bertahan hidup di tengah reruntuhan dan ketidakpastian yang mencekam.
Suara takbir yang masih terdengar dari kamp-kamp pengungsian menjadi kontras yang menyayat hati. Di balik gema takbir itu, jutaan warga Gaza menyimpan luka kehilangan — kehilangan orang-orang tercinta, kehilangan rumah, dan kehilangan harapan akan masa depan yang lebih baik. Iduladha di Gaza Dibayangi Perang, Tidak Menyembelih Hewan Kurban LPP RRI bukan sekadar tajuk berita, melainkan realitas pahit yang harus mereka telan.
Angka Kematian yang Mengerikan
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa hampir 73 ribu warga Palestina telah tewas sejak perang berlangsung. Angka ini bukan sekadar statistik — di balik setiap angka terdapat nama, wajah, dan cerita yang tak akan pernah bisa diceritakan lagi. Seorang ayah yang tak akan pernah memeluk anaknya lagi, seorang ibu yang kehilangan seluruh keluarganya dalam satu malam, dan anak-anak yang tumbuh tanpa mengenal arti keamanan.
Konflik yang berkepanjangan telah menyebabkan jutaan warga kehilangan tempat tinggal. Mereka kini hidup di kamp-kamp pengungsian dengan fasilitas yang sangat minim. Tenda-tenda kecil menjadi satu-satunya perlindungan dari terik matahari dan dinginnya malam, tanpa akses terhadap air bersih, makanan yang cukup, atau layanan kesehatan yang memadai.
Tradisi Kurban yang Terhenti Total
Salah satu pilar utama perayaan Iduladha adalah penyembelihan hewan kurban, sebuah ibadah yang memiliki makna mendalam bagi umat Muslim. Namun, tradisi tersebut tahun ini praktis lumpuh total di Gaza. Yayasan amal Ruya melaporkan bahwa musim kurban tahun ini benar-benar terhenti akibat penutupan perbatasan dan kelangkaan hewan ternak yang sangat parah.
Kondisi tersebut diperparah oleh lonjakan harga yang sangat fantastis. Sebelum perang, seekor domba di Gaza dihargai sekitar 350 dolar AS atau setara Rp6,2 juta. Namun kini, harga seekor domba meroket hingga 4.500 hingga 6.000 dolar AS, atau setara Rp80,5 hingga Rp107,2 juta. Kenaikan harga yang mencapai belasan kali lipat tersebut membuat tradisi kurban menjadi kemewahan yang mustahil dijangkau oleh warga Gaza yang kehilangan segalanya.
Sebagai alternatif, banyak lembaga amal akhirnya memilih untuk membagikan daging beku sebagai pengganti hewan kurban hidup. Meskipun upaya tersebut patut diapresiasi, daging beku tentu tidak dapat menggantikan makna spiritual dan kebersamaan yang tercipta dari tradisi penyembelihan hewan kurban secara langsung. Iduladha di Gaza Dibayangi Perang, Tidak Menyembelih Hewan Kurban LPP RRI menjadi cerminan betapa perang telah merampas bukan hanya nyawa, tetapi juga identitas dan tradisi sebuah bangsa.
Pasar Sepi, Daya Beli Ambruk
Pemandangan di pasar-pasar Gaza pun sangat kontras dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya menjelang Iduladha pasar-pasar dipadati pembeli yang mencari kebutuhan untuk merayakan hari raya, kini pasar tampak sepi dan sunyi. Pedagang yang masih bertahan hanya bisa pasrah menatap dagangan yang nyaris tak tersentuh pembeli.
Daya beli masyarakat Gaza terus merosot tajam akibat perang dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sebagian besar warga tidak memiliki sumber penghasilan tetap, sementara harga kebutuhan pokok terus melambung tinggi. Makanan, air bersih, dan obat-obatan menjadi barang mewah yang sulit diakses oleh mayoritas penduduk Gaza.
Hidup di Tengah Puing dan Ketidakpastian
Bagi warga Gaza, setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Mereka tidak lagi merencanakan perayaan atau mengkhawatirkan tradisi — fokus utama mereka adalah bagaimana bisa makan di hari berikutnya, di mana mereka akan tidur malam ini, dan apakah mereka masih hidup esok hari.
Anak-anak Gaza, yang seharusnya merasakan kegembiraan Iduladha dengan bermain dan berkumpul bersama teman-teman, kini justru menghabiskan hari-hari mereka di antara puing-puing bangunan yang hancur. Trauma psikologis yang mereka alami kemungkinan akan membawa bekas luka yang sangat dalam hingga dewasa kelak.
Di kamp-kamp pengungsian, sebagian kecil warga masih berusaha menjalankan salat Iduladha berjamaah. Mereka membentang sajadah di atas tanah berdebu, mengangkat tangan berdoa, dan memohon kepada Tuhan agar penderitaan mereka segera berakhir. Momen-momen tersebut menjadi satu-satunya pengingat bahwa meskipun perang telah merampas hampir segalanya, iman dan harapan mereka belum sepenuhnya hilang.
Dunia Menyaksikan dalam Diam
Kondisi kemanusiaan di Gaza telah menjadi perhatian berbagai organisasi internasional, namun bantuan yang mengalir masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan jutaan warga yang terdampak. Penutupan perbatasan dan pembatasan akses bantuan kemanusiaan terus menjadi hambatan utama dalam upaya penyelamatan nyawa.
Berbagai lembaga amal dan organisasi kemanusiaan terus berupaya keras untuk menyalurkan bantuan, namun skala krisis yang terjadi jauh melampaui kapasitas yang tersedia. Iduladha di Gaza Dibayangi Perang, Tidak Menyembelih Hewan Kurban LPP RRI seharusnya menjadi alarm bagi komunitas internasional bahwa krisis di Gaza membutuhkan perhatian dan tindakan yang jauh lebih serius.
Iduladha di Gaza Dibayangi Perang, Tidak Menyembelih Hewan Kurban LPP RRI bukan hanya tentang hilangnya tradisi kurban. Ini tentang hilangnya kemanusiaan, hilangnya harapan, dan hilangnya masa depan bagi jutaan orang yang terjebak dalam konflik yang bukan pilihan mereka. Semoga dunia tidak berpaling, dan semoga perdamaian yang selama ini mereka dambakan segera hadir di tanah yang telah terlalu lama merasakan darah dan air mata.












