PSPK – 20 Mei 2026 | Rupiah Melemah, Perajin Tahu-Tempe Kelabakan Hadapi Lonjakan Harga Kedelai menjadi isu hangat di kalangan pelaku usaha kecil di Indonesia. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan oleh perajin tahu dan tempe yang masih bergantung pada bahan baku kedelai impor.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Menurut Anggota Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah memicu keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang. Sementara dari dalam negeri, pasar menyoroti persepsi risiko fiskal pemerintah.
Dampak terhadap Industri Makanan
Rupiah Melemah, Perajin Tahu-Tempe Kelabakan Hadapi Lonjakan Harga Kedelai yang melonjak jauh di atas harga internasional. Para perajin mulai kesulitan menyiasati kenaikan harga kedelai domestik. Menurut Eric, nilai tukar rupiah bahkan sempat menembus Rp17.600 per dolar AS, yang berpotensi menekan stabilitas ekonomi nasional apabila tidak segera direspons melalui kebijakan yang terkoordinasi.
Langkah Pemerintah
Eric meminta pemerintah dan otoritas moneter memperkuat sinergi untuk menahan dampak pelemahan rupiah terhadap daya beli masyarakat. Ia mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang telah menyiapkan tujuh strategi menjaga stabilitas rupiah, termasuk intervensi di pasar valuta asing serta pengetatan likuiditas dolar AS.
Kesimpulan
Rupiah Melemah, Perajin Tahu-Tempe Kelabakan Hadapi Lonjakan Harga Kedelai menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah fiskal yang lebih agresif. Dengan demikian, diharapkan daya beli masyarakat dapat terjaga dan tidak terjadi rasionalisasi tenaga kerja. Rupiah Melemah, Perajin Tahu-Tempe Kelabakan Hadapi Lonjakan Harga Kedelai harus menjadi prioritas bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.












