PSPK – 07 Maret 2026 | Sabtu, 7 Maret 2026 menandai hari ke-17 Ramadhan 1447 H di seluruh Indonesia. Pada hari yang sekaligus bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran ini, umat Islam di berbagai wilayah Jawa‑Bali menantikan waktu berbuka puasa (maghrib) serta mengamalkan doa‑doa sunnah yang telah diwariskan sejak masa Rasulullah SAW.
Jadwal Buka Puasa di Tiga Kota Utama
Berikut rangkaian jadwal imsakiyah dan waktu maghrib‑isya yang dirilis resmi oleh Kementerian Agama RI untuk wilayah Denpasar (Bali), Solo (Jawa Tengah), serta Lombok (NTB). Jadwal ini menjadi acuan utama bagi masyarakat untuk menyiapkan sahur, berbuka, serta melaksanakan shalat lima waktu secara tepat.
| Wilayah | Maghrib | Isya |
|---|---|---|
| Denpasar, Bali | 18:40 WITA | 19:49 WITA |
| Solo, Jawa Tengah | 18:38 WIB | 19:47 WIB |
| Lombok, NTB | 18:36 WITA | 19:46 WITA |
Waktu maghrib yang tercantum merupakan saat azan maghrib berkumandang, menandakan resmi berakhirnya puasa. Selanjutnya, azan isya menandai berakhirnya waktu berbuka dan masuknya waktu shalat isya.
Doa Buka Puasa Sunnah
Umat Islam dianjurkan mengucapkan doa ketika memutuskan puasa. Dua doa yang paling umum dipraktikkan, sebagaimana dijelaskan oleh Ustaz Adi Hidayat dalam video “Tentang Doa Berbuka Puasa (Part 2)”, antara lain:
- Dzahabaz al‑zamaʿu, wab‑tallat al‑ʿurūq, wa‑thabata al‑ajr in shāʾa Allāh (HR Abu Daud). Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.”
- Allāhumma laka ṣumtu, wa‑bika āmanatu, wa‑ʿalā rizqika aftartu bir‑raḥmati‑ka yā ar‑raḥmān (HR Bukhari dan Muslim). Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, wahai Maha Pengasih.”
Kedua doa dapat dibaca berurutan; doa pertama sebagai pembuka, diikuti doa kedua sebagai penegasan keikhlasan.
Praktik Doa di Setiap Wilayah
Di Denpasar, para jamaah masjid biasanya mengucapkan doa Dzahabaz al‑zamaʿu sesaat setelah menunaikan takbir pada azan maghrib, kemudian melanjutkannya dengan doa Allāhumma laka ṣumtu. Di Solo, tradisi serupa dipertahankan dengan penekanan pada bacaan niat puasa sebelum fajar, sebagaimana disarankan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sedangkan di Lombok, komunitas muslim menambahkan bacaan doa dalam bahasa lokal sebelum mengonsumsi hidangan khas “kolak” dan “es kelapa muda”.
Aktivitas Ngabuburit dan Kegiatan Sosial
Selain menunggu waktu berbuka, banyak warga memanfaatkan waktu “ngabuburit” untuk kegiatan sosial. Di Denpasar, pasar tradisional menyelenggarakan pembagian takjil gratis bagi anak‑anak kurang mampu. Di Solo, komunitas relawan menggelar bazaar makanan halal yang hasil penjualannya disumbangkan ke panti asuhan setempat. Di Lombok, kegiatan bersih‑bersih pantai dan penanaman pohon dilakukan oleh organisasi lingkungan setempat, menjadikan momen berbuka puasa juga sarana memperkuat solidaritas sosial.
Pengaruh Nuzulul Quran pada Hari ke‑17 Ramadhan
Hari ke‑17 Ramadhan bertepatan dengan peringatan turunnya Al‑Quran, yang menambah makna spiritual bagi umat. Masjid‑masjid di ketiga wilayah mengadakan majelis ilmu singkat yang membahas tafsir ayat‑ayat yang menekankan pentingnya kesabaran, kedermawanan, dan keikhlasan dalam berpuasa. Kegiatan ini didukung oleh lembaga Almanhaj, yang menyediakan materi audio‑visual untuk membantu jamaah memahami pesan Qur’an secara lebih mendalam.
Secara keseluruhan, hari ke‑17 Ramadhan 2026 tidak hanya menjadi titik tengah perjalanan ibadah puasa, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat ikatan kebersamaan antar‑umat, menegakkan nilai‑nilai agama, serta menyalurkan kepedulian sosial melalui aksi‑aksi nyata di lapangan.
Semoga setiap umat yang menjalankan ibadah puasa pada hari ini memperoleh keberkahan, kesehatan, dan pahala yang melimpah. Selamat berbuka puasa.












