PSPK – 07 Mei 2026 | Rupiah terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), dengan nilai tukar mencapai Rp17.400 per dollar AS. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang terus membayangi pasar keuangan domestik. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.
Dari sisi global, sejumlah sentimen eksternal turut menekan rupiah. Di antaranya adalah tingginya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga acuan AS, serta penguatan dollar AS. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai sekitar 4,47 persen turut mendorong aliran keluar modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelemahan rupiah dipicu faktor musiman yang meningkatkan permintaan terhadap dollar AS. Dalam sepekan ke depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas, yakni sekitar Rp 17.250 hingga Rp 17.500 per dollar AS.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai pelemahan rupiah bukan fenomena baru, melainkan tren yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, kondisi ini mencerminkan melemahnya daya saing dan produktivitas ekonomi nasional.
Intervensi Bank Indonesia tidak akan cukup efektif jika tidak dibarengi perbaikan fundamental ekonomi. Upaya BI sejauh ini sudah optimal, namun tantangan terbesar kini berada di tangan pemerintah, terutama dalam merumuskan kebijakan fiskal dan sektoral yang mampu meningkatkan kepercayaan investor.
Dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian masih dapat dimitigasi dengan kebijakan yang tepat. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu bekerja sama untuk meningkatkan kepercayaan investor dan memperbaiki fundamental ekonomi. Dengan demikian, pelemahan rupiah dapat diatasi dan perekonomian dapat kembali stabil.












