PSPK – 07 Mei 2026 | Di usianya yang tidak lagi muda, Nenek Jumaria akhirnya bisa menginjakkan kaki di Madinah setelah bertahun-tahun menabung dari hasil bekerja di sawah dan kebun. Perjalanan hajinya bukanlah kisah tentang kemewahan atau penghasilan besar, melainkan tentang perjuangan dan pengorbanan hidup yang dijalani dengan penuh kesabaran.
Nenek Jumaria hidup seorang diri di rumahnya di tengah sawah, cukup berjarak dari penduduk lain di kampungnya. Ia menghabiskan waktunya dengan sibuk bertani dan menerima upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain. Meski nominalnya tidak besar, seluruh uang itu tetap ia simpan dengan disiplin untuk biaya haji.
Ia menyimpan uang di berbagai tempat sederhana agar aman dan tidak digunakan untuk kebutuhan lain. Bahkan, Nenek Jumaria menyimpan uang itu di dekat tempat tidurnya lalu menutupinya dengan kain-kain bekas agar tidak diketahui orang lain.
Perjuangan Nenek Jumaria tidaklah mudah. Ia harus rela makan daun ubi yang ada di sekitar rumah agar tabungan hajinya tetap utuh. Namun, kesederhanaan itu dijalani tanpa keluhan. Ia tetap bersyukur karena cita-cita yang dipendam selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan.
Kini, Nenek Jumaria telah menjadi ikon haji 2026 dan kisahnya telah menginspirasi banyak orang. Ia membuktikan bahwa dengan perjuangan dan kesabaran, impian dapat menjadi kenyataan. Nenek Jumaria juga menunjukkan bahwa kesederhanaan dan keikhlasan dapat membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.
Nenek Jumaria kini hanya bisa bersyukur karena cita-cita yang dipendam selama puluhan tahun akhirnya menjadi kenyataan. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi banyak orang untuk tidak menyerah dalam perjuangan mereka dan terus bersabar dalam mencapai tujuan.












