Project Seru Penuh Kejutan

Jelajah Rasa Nusantara Lewat Webseries Kuliner Indonesia Kaya

March 7, 2026 • 0 Views
Jelajah Rasa Nusantara Lewat Webseries Kuliner Indonesia Kaya
Jelajah Rasa Nusantara Lewat Webseries Kuliner Indonesia Kaya

PSPK – 07 Maret 2026 | Kuliner Indonesia bukan sekadar soal rasa, melainkan cermin sejarah, budaya, dan perjalanan peradaban setiap daerah. Sejak 2017, program webseries “Kuliner Indonesia Kaya” mengangkat kisah-kisah tersebut dalam format audio visual, menawarkan penonton sebuah petualangan rasa yang sarat makna.

Pada musim terbaru, seri ini menelusuri tiga kota dengan warisan kuliner kuat: Ternate, Palembang, dan Banten. Setiap episode menampilkan proses memasak tradisional, bahan lokal, serta filosofi yang melandasi hidangan khas masing‑masing wilayah.

Ternate: Jejak Jalur Rempah dan Kearifan Lokal

Episode pertama, yang ditayangkan pada 26 Februari 2026, membawa penonton ke pulau Ternate, titik penting dalam jalur rempah dunia. Di sini, tradisi memasak “Rimo‑rimo” menjadi sorotan utama. Metode ini memanfaatkan bambu sebagai wadah memasak, memungkinkan masyarakat menyiapkan daging, ayam, sayuran, atau umbi-umbian tanpa peralatan modern. Praktik ini bukan sekadar teknik kuliner, melainkan refleksi adaptasi hidup di hutan dan pengetahuan leluhur yang diwariskan turun‑temurun.

Selain Rimo‑rimo, episode ini menampilkan “Gohu Ikan”, hidangan segar yang menggabungkan ikan laut seperti tuna atau cakalang dengan garam, perasan lemon cui, dan daun kemangi. Penyajiannya yang tidak melalui proses pemanasan menegaskan hubungan harmonis masyarakat Ternate dengan sumber daya laut.

Palembang: Warisan Sungai Musi dan Kue Ikonik

Episode kedua, tayang 5 Maret 2026, beralih ke Palembang, kota yang dikenal dengan Sungai Musi. “Pindang Ikan” menjadi contoh utama, memanfaatkan ikan patin, gabus, atau baung dalam kuah asam pedas yang segar. Hidangan ini mencerminkan kearifan lokal dalam mengolah hasil sungai menjadi santapan bernilai gizi tinggi.

Palembang juga dikenal dengan dua kue tradisional yang memikat: “Kue Delapan Jam” dan “Kue Maksuba”. Kue Delapan Jam memerlukan proses pembuatan hingga delapan jam untuk menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan, sementara Kue Maksuba, dengan lapisan tipis dan rasa legit, biasanya disajikan dalam perayaan penting seperti pernikahan dan Lebaran, melambangkan rasa hormat dan kasih sayang.

Banten: Pengaruh Kesultanan dalam Rasa

Episode ketiga, dijadwalkan tayang pada 12 Maret 2026, mengeksplorasi kuliner Banten yang dipengaruhi kuat oleh masa Kesultanan. “Sate Bandeng” menjadi ikon, konon favorit Sultan Maulana Hasanuddin. Teknik menghilangkan duri bandeng sebelum dipanggang mencerminkan kehalusan rasa dan penghormatan kepada tamu kerajaan.

Selain itu, “Rabeg” hadir sebagai hidangan daging kambing atau sapi yang konon terinspirasi dari kunjungan Sultan ke Arab Saudi. Versi lain menyebutkan bahwa pedagang Arab memperkenalkan resep ini, yang kemudian beradaptasi dengan selera lokal Banten.

Melalui tiga episode tersebut, “Kuliner Indonesia Kaya” tidak hanya menampilkan visual yang menggugah selera, tetapi juga menyampaikan nilai sejarah, akulturasi, dan filosofi hidup yang melekat pada setiap hidangan. Program ini berperan sebagai jembatan generasi, mengajak penonton muda mengenal dan menghargai warisan gastronomi bangsa.

Dengan durasi yang ringkas namun padat, seri ini diharapkan menjadi arsip hidup yang melestarikan keanekaragaman rasa Nusantara, sekaligus menginspirasi eksplorasi kuliner lebih lanjut di seluruh Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *