PSPK – 21 April 2026 | KH Muhammad Sholeh bin Umar as‑Samarani, yang lebih dikenal dengan sebutan KH Sholeh Darat, merupakan tokoh ulama Jawa yang memadukan peran sebagai pendidik, penulis, dan pejuang kultural pada era kolonial Belanda. Melalui pesantren, kitab‑kitab berbahasa Jawa, serta hubungan dekat dengan tokoh‑tokoh nasional seperti RA Kartini, KH Sholeh Darat meninggalkan jejak yang masih terasa dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia.
Biografi Singkat
KH Sholeh Darat lahir di Kedung Cumpleng, Mayong, Jepara sekitar tahun 1820 M (1235 H). Ia berasal dari keluarga yang sudah terlibat aktif dalam perjuangan Islam; ayahnya, KH Umar, merupakan ulama yang mendampingi Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda. KH Sholeh Darat wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H (18 Desember 1903 M) pada usia 83 tahun.
Pendidikan dan Pengembaraan
Sejak kecil, ia belajar dasar‑dasar agama dari ayahnya, kemudian melanjutkan ke sejumlah guru di Jawa, antara lain KH Muhammad Syahid (Kajen, Pati), KH Raden Muhammad Shaleh bin Asnawi (Kudus), Kiai Ishak Damaran (Semarang), Sayyid Ahmad Bafaqih Ba’alawi, dan lain‑lain. Ilmu yang dikuasainya meliputi fikih, tafsir, nahwu‑sharaf, ilmu falak, akidah, serta tasawuf.
Pada masa mudanya, ia bersama ayahnya sempat menetap di Singapura, lalu berangkat ke Mekkah untuk menunaikan haji dan menimba ilmu lebih dalam. Di Tanah Suci, ia belajar kepada ulama‑ulama ternama seperti Syekh Muhammad al‑Maqri, Al‑Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Nawawi al‑Bantani. Setelah menuntut ilmu, ia bahkan diberi kepercayaan untuk mengajar di Mekkah sebelum kembali ke tanah air.
Pesantren Darat: Pusat Pendidikan dan Peradaban
Setelah kembali ke Jawa, KH Sholeh Darat menikah dengan putri KH Murtadha dan mendirikan Pesantren Darat di Kampung Mlayu Darat, Semarang pada akhir 1870‑an. Pesantren ini menjadi magnet bagi santri dari seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di santri‑santrinya, tiga tokoh bangsa pernah belajar: RA Kartini, KH Ahmad Dahlan, dan KH Hasyim Asy’ari.
Karya‑Karya Ilmiah dalam Bahasa Jawa
KH Sholeh Darat produktif menulis, dengan estimasi sekitar 40 kitab, meskipun sebagian sumber mencatat minimal 14 judul. Keunikan karya‑karyanya terletak pada penggunaan bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam. Berikut contoh sebagian judul beserta bidangnya:
| No | Judul Kitab | Bidang |
|---|---|---|
| 1 | Faidh al‑Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malik al‑Dayyan | Tafsir Al‑Qur’an berbahasa Jawa |
| 2 | Majmu’at Syari’at al‑Kafiyat li al‑Awam | Fikih & Akidah |
| 3 | Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al‑Din al‑Ghazali | Tasawuf (terjemahan) |
| 4 | Al‑Hikam (terjemahan Ahmad bin Athailah) | Tasawuf |
| 5 | Lathaif al‑Thaharah | Fikih tentang tata bersuci |
Kitab Faidh al‑Rahman menjadi yang paling terkenal karena berhasil menyajikan tafsir Al‑Qur’an dalam bahasa Jawa, membuka akses ke pemahaman agama bagi rakyat Jawa yang sebelumnya terbatas pada teks Arab.
Perjuangan Melalui Pendidikan dan Fatwa
Berbeda dengan ayahnya yang terjun langsung ke medan perang, KH Sholeh Darat memilih jalur budaya: menulis, mengajar, dan memberi fatwa. Salah satu fatwanya melarang umat Islam meniru gaya hidup Belanda—seperti memakai celana, topi, atau dasi—sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap penjajahan.
Dalam tasawufnya, ia menekankan konsep “maqam taubat” sebagai pondasi moral untuk melawan kezaliman, termasuk kritik terhadap pajak yang memberatkan rakyat kecil. Pengalaman sebagai mufti di Mekkah menambah otoritasnya, sehingga ketika kembali ke Jawa, pandangannya mudah diikuti oleh generasi muda.
Hubungan dengan RA Kartini
RA Kartini, tokoh emansipasi perempuan, pernah meminta terjemahan Al‑Qur’an dalam bahasa Jawa kepada KH Sholeh Darat. Karena larangan kolonial atas terjemahan Al‑Qur’an, permintaan ini berisiko tinggi. KH Sholeh Darat tetap melakukannya dan mempersembahkan kitab Faidhur‑Rahman pada pernikahan Kartini. Kartini menuliskan rasa terangnya dalam surat‑suratnya, yang kemudian menjadi inspirasi judul buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sayangnya, terjemahan tersebut belum selesai karena wafatnya KH Sholeh Darat.
Pengaruh Terhadap Pendiri Organisasi Islam
KH Hasyim Asy’ari belajar di Pesantren Darat sekitar tahun 1890, menyerap ilmu fikih dan tasawuf yang kelak menjadi landasan Nahdlatul Ulama. KH Ahmad Dahlan juga pernah menjadi santri, memetik semangat pembaruan yang kemudian memunculkan Muhammadiyah pada 1912. Kedua tokoh ini menilai KH Sholeh Darat sebagai guru spiritual yang membentuk cara berpikir keislaman mereka.
Warisan dan Upaya Pengakuan
Setelah wafat, KH Sholeh Darat dimakamkan di TPU Bergota, Semarang. Makamnya sering dikunjungi peziarah, terutama pada peringatan haul tahunan yang diiringi kirab budaya. Pemerintah Kota Semarang bersama elemen masyarakat terus mengupayakan pengesahan gelar Pahlawan Nasional bagi KH Sholeh Darat melalui proses pengajuan ke tingkat provinsi dan pusat.
Warisan KH Sholeh Darat tidak hanya terletak pada kitab‑kitabnya, tetapi juga pada generasi murid‑muridnya yang menjadi pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia serta pada inspirasi yang diberikan kepada RA Kartini. Sebagai ulama multidimensi—guru, penulis, pejuang kultural—ia pantas dikenang sebagai salah satu pahlawan bangsa yang mengubah kegelapan menjadi cahaya.












