PSPK – 15 April 2026 | Konsumsi produk tekstil dan tekstil pakaian jadi (TPT) di Indonesia menunjukkan tanda pemulihan yang cukup kuat pada akhir 2025 hingga awal 2026. Data pasar mengindikasikan peningkatan permintaan yang dipicu oleh momentum hari raya Imlek dan persiapan Lebaran, serta perbaikan daya beli konsumen pada segmen pakaian jadi.
Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Menjelang akhir Februari hingga Maret 2026, industri TPT mulai merasakan tekanan berat yang berasal dari tiga faktor utama:
- Gangguan rantai pasok global: Keterlambatan pengiriman bahan baku dari negara‑negara pemasok utama menambah biaya produksi dan menurunkan ketersediaan produk.
- Penurunan ekspor: Volume ekspor TPT menurun akibat hambatan logistik internasional dan kenaikan biaya pengiriman, memperlemah pendapatan sektor.
- Fluktuasi nilai tukar: Meskipun rupiah melemah, manfaatnya teredam karena sebagian besar biaya produksi masih berbasis dolar AS, sehingga margin keuntungan tidak mengalami perbaikan.
Berita dari media nasional seperti Bisnis Indonesia dan Kontan menegaskan bahwa ketidakpastian global memperparah situasi. Kenaikan tarif pengiriman laut serta penundaan suplai bahan baku menjadi beban tambahan bagi produsen.
Dengan tekanan ganda—biaya produksi yang tinggi dan permintaan eksternal yang lesu—margin industri tidak menunjukkan perbaikan signifikan meski kurs rupiah melemah. Pelaku usaha kini menuntut kebijakan pemerintah yang lebih proaktif, antara lain:
- Stabilisasi rantai pasok melalui kemudahan impor bahan baku kritis.
- Peningkatan dukungan logistik, termasuk pengembangan pelabuhan dan infrastruktur transportasi.
- Insentif bagi eksportir untuk meningkatkan daya saing produk tekstil Indonesia di pasar global.
Ke depan, industri berharap bahwa dukungan kebijakan tersebut dapat mempertahankan laju pemulihan konsumsi domestik menjelang Lebaran, sekaligus memulihkan kinerja ekspor yang sempat terpuruk pada kuartal pertama 2026.












