PSPK – 10 April 2026 | Banjarbaru, Kalsel – Pada Senin (8/4/2026) siang, dua orang siswa Sekolah Dasar (SD) di Banjarbaru meninggal dunia setelah tenggelam di sebuah kolam bekas galian yang terletak di pinggiran wilayah perkotaan. Kejadian tersebut menewaskan siswa kelas IV dan V, sementara dua temannya berhasil selamat setelah berhasil menggapai tepi kolam. Insiden ini menambah deretan kecelakaan serupa yang terjadi di wilayah Indonesia, mengingatkan pentingnya pengawasan dan edukasi keselamatan anak di sekitar area berbahaya.
Latar Belakang Lokasi dan Kronologi Kejadian
Kolam bekas galian tersebut dulunya merupakan lubang tambang pasir yang ditinggalkan beberapa bulan lalu. Karena tidak ditutup rapat, lubang tersebut terisi air hujan dan berubah menjadi kolam dalam yang tidak terdeteksi dengan jelas oleh warga sekitar. Pada hari kejadian, empat orang siswa – dua anak laki‑laki berusia 9 tahun dan dua anak perempuan berusia 10 tahun – berkunjung ke area tersebut untuk bermain setelah jam pelajaran selesai.
Menurut saksi mata, anak‑anak tersebut tampak bermain air sambil melempar batu kecil ke dalam kolam. Tanpa disadari, dua dari mereka terpeleset dan terjun masuk ke dalam air yang cukup dalam, diperkirakan memiliki kedalaman lebih dari 2,5 meter. Arus yang tiba‑tiba muncul akibat limpahan air hujan membuat kedua korban terseret ke dasar kolam dan sulit untuk diangkat.
Sementara itu, dua temannya yang berada di tepi kolam langsung berteriak meminta bantuan. Salah satu guru kelas yang sedang berada di dekat lokasi mendengar teriakan tersebut dan segera melaporkan kejadian ke pihak keamanan sekolah dan kepolisian. Tim SAR gabungan, yang melibatkan Satpol PP, Pemadam Kebakaran, serta relawan masyarakat, dikerahkan ke lokasi sekitar pukul 14.30 WIB.
Upaya Penyelamatan dan Penemuan Korban
Tim SAR melakukan pencarian intensif dengan menggunakan alat bantu pernapasan dan perahu kecil. Karena kondisi air yang keruh, proses pencarian memakan waktu lebih lama. Pada pukul 16.00 WIB, petugas berhasil menemukan dua tubuh korban yang sudah tidak bernyawa mengapung di permukaan air. Kedua tubuh tersebut segera dievakuasi dan dibawa ke RSUD dr. M. Soewondo Banjarbaru untuk proses otopsi.
Setelah proses penyelamatan, dua anak yang selamat berhasil ditarik ke tepi dengan bantuan tali penyelamat. Kedua anak tersebut mengalami luka ringan pada bagian kaki dan mengalami shock ringan, namun kondisi mereka stabil dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Penyebab dan Tanggapan Pihak Berwenang
Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa kedalaman kolam, arus air yang tidak terduga, serta kurangnya pengamanan pada area bekas galian menjadi faktor utama terjadinya tragedi ini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Banjarbaru, Budi Santoso, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan survei menyeluruh terhadap seluruh bekas galian di wilayah kota dan segera menutup atau mengamankan area yang berpotensi bahaya.
Selain itu, Dinas Pendidikan Banjarbaru menegaskan pentingnya peningkatan sosialisasi tentang bahaya bermain di tempat yang tidak aman, khususnya bagi anak‑anak usia sekolah dasar. Sekolah‑sekolah di wilayah tersebut diminta untuk menambah materi edukasi keselamatan lingkungan dalam kurikulum, serta melakukan pengawasan lebih ketat saat anak‑anak melakukan aktivitas di luar kelas.
Perbandingan dengan Kasus Serupa di Indonesia
Insiden ini mengingatkan kembali pada beberapa kecelakaan serupa yang terjadi di Indonesia akhir‑akhir ini. Misalnya, pada 9 April 2026, seorang pelajar berusia 16 tahun ditemukan meninggal di kawasan Air Terjun Temburun Nanas, Lombok Barat, setelah empat hari pencarian intensif. Pada kasus tersebut, arus deras dan medan licin menjadi penyebab utama.
Kasus-kasus tersebut memperlihatkan pola yang sama: kurangnya pengamanan area alami atau bekas tambang, serta kurangnya kesadaran masyarakat akan potensi bahaya alam. Pihak berwenang di berbagai provinsi kini mulai menerapkan penggunaan drone thermal dan teknologi pemantauan lainnya untuk mempercepat proses pencarian korban di medan sulit.
Langkah Lanjutan dan Upaya Pencegahan
- Penutupan dan penambalan semua lubang bekas galian yang belum aman.
- Peningkatan patroli Satpol PP di area rawan bahaya.
- Penyuluhan rutin di sekolah tentang bahaya bermain di lingkungan berisiko.
- Pengadaan fasilitas bermain yang aman di lingkungan sekolah.
- Kolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat untuk program edukasi keselamatan anak.
Dengan langkah‑langkah tersebut, diharapkan tidak ada lagi tragedi serupa yang menimpa generasi muda Indonesia. Keluarga korban kini tengah berduka, sementara pemerintah daerah berkomitmen memberikan dukungan moral dan material kepada mereka.
Tragedi di Banjarbaru menjadi pengingat keras bagi semua pihak bahwa keselamatan anak tidak boleh diabaikan. Pengawasan ketat, edukasi berkelanjutan, dan penanganan cepat terhadap potensi bahaya lingkungan menjadi kunci utama dalam melindungi nyawa generasi penerus.












