PSPK – 04 April 2026 | Di era kerja modern, muncul sebuah pola perilaku yang kian banyak dibicarakan, yaitu quiet quitting. Istilah ini tidak berarti karyawan mengundurkan diri secara resmi, melainkan memilih untuk melakukan hanya apa yang secara tegas diminta, tanpa menambah inisiatif atau kerja ekstra.
Fenomena ini bukan sekadar rasa malas, melainkan respons psikologis terhadap lingkungan kerja yang terasa tidak seimbang. Baik pekerja muda maupun senior dapat terjebak ketika penghargaan tidak lagi sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.
Bagaimana quiet quitting terlihat?
- Kualitas kerja seadanya: Tugas selesai tepat waktu, namun tanpa nilai tambah atau kreativitas.
- Respons terbatas: Komunikasi hanya dijawab bila diperlukan, tanpa inisiatif percakapan tambahan.
- Alergi terhadap tugas di luar deskripsi: Permintaan tambahan dirasa beban berlebih dan ditolak.
- Prinsip “yang penting beres”: Fokus pada penyelesaian tugas tanpa memperhatikan dampak jangka panjang bagi karier.
Penyebab utama yang mendorong perilaku ini
- Ketidakjelasan arah: Proyek atau tujuan yang tidak jelas membuat karyawan kehilangan motivasi.
- Kurangnya apresiasi: Upaya yang tak diakui atau dihargai menurunkan semangat kerja.
- Dukungan atasan yang minim: Tidak adanya bimbingan atau bantuan saat menghadapi kendala.
- Batas kerja‑pribadi yang kabur: Sulit memisahkan waktu pribadi dari pekerjaan, menyebabkan kelelahan.
Langkah yang dapat diambil
Untuk pekerja:
- Susun prioritas kerja secara realistis dan komunikasikan batasan yang sehat.
- Ajukan pertanyaan klarifikasi bila tugas terasa tidak jelas.
- Jaga keseimbangan hidup dengan menetapkan waktu istirahat yang konsisten.
Untuk atasan:
- Sampaikan tujuan tim dengan transparan dan terukur.
- Berikan umpan balik positif secara rutin.
- Pastikan beban kerja dapat dipenuhi tanpa menimbulkan stres berlebihan.
Quiet quitting mengingatkan kita bahwa produktivitas tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan mental. Mengidentifikasi tanda‑tanda awal dan menyesuaikan pola kerja dapat mencegah terjadinya penurunan semangat yang berkelanjutan.












