PSPK – 01 April 2026 | Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026, melanjutkan tren positif sejak Mei 2020. Dengan pencapaian ini, negara telah mencatatkan 70 bulan beruntun mengalami surplus.
Ekspor pada bulan tersebut mencapai US$22,17 miliar, meningkat 1,01% secara tahunan. Pertumbuhan ekspor terutama dipicu oleh sektor non‑migas, khususnya minyak nabati, nikel, serta mesin dan perlengkapan elektrikal. Sementara itu, impor tercatat US$20,89 miliar, naik 10,85% YoY, dengan lonjakan signifikan pada sektor non‑migas (18,24%).
| Keterangan | Nilai (US$ Miliar) | Perubahan YoY |
|---|---|---|
| Ekspor | 22,17 | +1,01% |
| Impor | 20,89 | +10,85% |
| Surplus Total | 1,27 | — |
| Surplus Non‑Migas | 2,19 | — |
Surplus non‑migas sebesar US$2,19 miliar didorong oleh komoditas utama seperti minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sektor migas masih mencatat defisit, yang menahan total surplus.
Para analis sebelumnya memperkirakan bahwa surplus akan terus berlanjut namun kemungkinan menyempit karena pertumbuhan impor yang lebih agresif. Realisasi Februari ternyata melampaui proyeksi pasar, menandakan ketahanan eksternal yang lebih kuat dari yang diperkirakan.
Secara keseluruhan, meski tekanan impor meningkat, neraca perdagangan tetap solid dan menjadi penopang penting stabilitas ekonomi luar negeri Indonesia.












