PSPK – 29 Maret 2026 | Setelah satu bulan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Presiden Donald Trump berada pada titik persimpangan yang sangat menantang. Kenaikan harga energi global, penurunan persetujuan publik, dan tekanan politik domestik menambah beban keputusan yang harus diambil.
Trump telah mengirimkan tim diplomatik ke wilayah tersebut sambil melanjutkan operasi militer gabungan dengan Israel. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan damai yang konkret. Pilihan yang kini tersedia dapat diringkas dalam dua alternatif utama:
- Negosiasi dan Penarikan – Menyusun perjanjian damai, meskipun diperkirakan lemah, dan menghentikan operasi militer. Langkah ini menuntut kesepakatan tentang pembongkaran program nuklir Iran, pembatasan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Eskalasi Militer – Memperluas serangan, termasuk kemungkinan penggunaan pasukan darat, untuk menekan Tehran hingga ia menyerah. Risiko utama adalah terjerat dalam konflik berkepanjangan yang dapat menguras sumber daya politik dan menurunkan dukungan pemilih.
Dalam upaya diplomatik, Trump menyampaikan proposal 15 poin melalui jalur belakang dengan Pakistan, namun Tehran menilai tawaran tersebut tidak realistis. Sementara itu, pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa kampanye militer akan dihentikan ketika tujuan strategis tercapai, meskipun belum ada definisi yang jelas tentang apa yang dimaksud.
Di dalam negeri, survei terbaru menunjukkan persetujuan Trump turun ke 36 persen, angka terendah sejak ia kembali ke Gedung Putih. Harga bensin yang melonjak dan kekhawatiran akan dampak ekonomi memperparah situasi politik, terutama menjelang pemilihan paruh waktu November yang dapat menentukan mayoritas Partai Republik di Kongres.
Para analis menyoroti bahwa Iran memiliki kemampuan bertahan yang lebih lama daripada yang diperkirakan, dengan penggunaan rudal dan drone untuk menyerang Israel serta menutup sebagian Selat Hormuz—jalur yang mengangkut seperlima minyak dunia. Jika konflik berlanjut, tekanan pada pasar energi global akan semakin intens.
Selain tekanan eksternal, ada pula pertentangan internal di antara sekutu Washington. Negara-negara Teluk menolak penempatan pasukan AS di Iran karena khawatir akan balasan lebih lanjut, sementara sekutu Eropa menolak mengirim kapal perang untuk mengamankan selat tersebut.
Trump terus berusaha menyeimbangkan antara sinyal keras kepada Iran dan upaya menenangkan pasar keuangan. Pada satu kesempatan, ia menunda ancaman mematikan jaringan listrik Iran selama lima hari, kemudian memperpanjang jeda tersebut menjadi sepuluh hari untuk memberi ruang pada diplomasi.
Secara keseluruhan, keputusan yang diambil Trump dalam beberapa minggu mendatang akan menentukan tidak hanya arah konflik Timur Tengah, tetapi juga warisan kepresidenannya dan prospek politik Partai Republik di masa depan.










