PSPK – 29 Maret 2026 | 29 Maret 2026 resmi ditetapkan sebagai Hari Filateli Indonesia, dengan upacara peresmian yang dijadwalkan di Yogyakarta. Pengumuman ini disampaikan oleh Mahpudi Sukirman, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI), ketika mengunjungi sekretariat Pengurus Daerah PFI Sumatera Utara pada 7 Maret 2026.
Filateli berasal dari bahasa Yunani philos (teman) dan ateleia (bebas bea), yang secara harfiah berarti “teman yang bebas bea”. Awalnya merupakan kegiatan mengumpulkan perangko sejak era Inggris, dan para penggemarnya disebut filatelis.
Sejarah organisasi filateli di Indonesia dimulai pada 29 Maret 1922 di Jakarta dengan nama Postzegelverzamelaars Club Batavia. Seiring waktu, nama organisasi berganti beberapa kali, akhirnya pada tahun 1985 menjadi Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI). Dukungan PT Pos Indonesia menjadikan 29 Maret sebagai hari peringatan resmi, selaras dengan tahun berdirinya klub pertama.
- 1840‑05‑06: Pemerbitan perangko pertama di dunia (Penny Black) di Inggris.
- 1864‑04‑01: Terbitnya perangko pertama di Indonesia (Nusantara) pada masa Hindia Belanda.
- 1969: Indonesia bergabung dengan Federation International de Philatélie (FIP).
- 1974: Pembentukan Federation of Inter‑Asian Philately (FIAP) dengan partisipasi Indonesia.
Perkembangan filateli tidak lagi terbatas pada perangko semata. Kolektor kini meliputi First Day Covers, souvenir sheet, mini sheet, dan berbagai artefak pos lainnya. Generasi muda, pelajar, dan mahasiswa menjadi motor penggerak komunitas, menjadikan filateli sebagai sarana belajar sejarah, budaya, dan diplomasi melalui gambar yang tercetak pada perangko.
PT Pos Indonesia berkomitmen menerbitkan seri perangko baru setiap bulan, memastikan pasokan barang koleksi bagi para filatelis. Organisasi PFI menekankan pentingnya kolaborasi dengan lembaga pendidikan, media, dan sektor swasta untuk memperluas jangkauan kegiatan, seperti pameran, lomba menulis surat, dan workshop desain perangko.
Walaupun era digital menawarkan komunikasi instan, surat tetap memiliki nilai historis dan emosional. Perangko berperan sebagai “pulsa” zaman dulu, sekaligus sebagai duta visual negara yang menyebar ke seluruh dunia. Dengan dukungan pemerintah dan komunitas, harapan ke depan adalah pertumbuhan jumlah filatelis yang lebih dinamis dan inovatif.












