Project Seru Penuh Kejutan

Siswa SMK di Samarinda Meninggal Diduga Akibat Sepatu Kekecilan, Apakah Ini Bisa Terjadi?

May 7, 2026 • 0 Views
Siswa SMK di Samarinda Meninggal Diduga Akibat Sepatu Kekecilan, Apakah Ini Bisa Terjadi?
Siswa SMK di Samarinda Meninggal Diduga Akibat Sepatu Kekecilan, Apakah Ini Bisa Terjadi?

PSPK – 07 Mei 2026 | Sebuah kabar duka telah menimpa sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang siswa SMK Negeri 4 Samarinda, Mandala Rizky Saputra, meninggal dunia setelah diduga mengalami gangguan kesehatan akibat menggunakan sepatu sekolah yang terlalu sempit.

Menurut informasi yang diterima, Mandala mengalami penurunan kondisi kesehatan, dengan gejala pembengkakan pada kaki. Ia sempat mengeluh kakinya bengkak yang diduga karena memakai sepatu kekecilan dalam jangka waktu lama. Sekolah dan teman-teman Mandala sebenarnya sudah ingin memberikan bantuan berupa sepatu yang lebih layak.

Namun, sebelum rencana itu terlaksana, pada Jumat (24/4), kabar duka itu datang. Kakak Mandala mengabarkan melalui WhatsApp kepada Wali Kelas dan Waka Kesiswaan bahwa Mandala telah meninggal dunia. Kakaknya juga memberitahukan bahwa tidak ada dana untuk pemulasaraan jenazah.

Pihak sekolah membantah bahwa meninggalnya Mandala dikarenakan kaki bengkak karena memakai sepatu kekecilan. Tanpa ada diagnosa medis yang lengkap, maka sepatu tidak dapat disebut sebagai penyebab kematian karena belum terbukti. Tidak ditemukan luka pada bagian kaki, baik di tumit ataupun jari-jari kaki. Kaki membengkak di bagian punggung.

Menanggapi kasus tersebut, dokter spesialis ortopedi konsultan Foot and Ankle dari Siloam Hospitals Mampang, dr Langga Sintong, SpOT(K) mengatakan tetap ada kemungkinan hubungan antara kaki bengkak dan risiko kematian. Namun, dr Langga menegaskan perlunya mengidentifikasi faktor-faktor lain yang mungkin lebih memberikan pengaruh.

Apa saja bisa terjadi. Tapi, untuk kasus ini, tidak tahu bagaimana hal tersebut mengakibatkan hal yang fatal karena tidak tahu riwayatnya (medis) persis, kata dr Langga. dr Langga menambahkan, kaki yang bengkak sebaiknya tidak dianggap remeh dan perlu diberikan penanganan yang serius untuk meminimalisir dampak, meskipun memang probabilitasnya kecil.

Bisa saja (kaki bengkak menjadi fatal), jika pembuluh darahnya bisa tertekan atau tersumbat, kata dr Langga. Jika tersumbat, jelas mengganggu aliran darah. Kemudian lama-lama bisa terjadi blood clot (gumpalan darah), terus jadi deep vein thrombosis, terus bisa lepas jadi emboli, nyangkut di paru, bisa sesak. Tapi ini jarang banget, apalagi dari sepatu sempit. Harusnya nggak, sambungnya.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur menyatakan telah melakukan koordinasi serta pendalaman informasi dengan berbagai pihak terkait. Berdasarkan hasil penelusuran sementara, Mandala diketahui mengalami penurunan kondisi kesehatan, dengan gejala pembengkakan pada kaki.

Kondisi kesehatan siswa diketahui mengalami penurunan kondisi fisik, pusing, dan pembengkakan pada kaki. Setelah dilakukan kunjungan ke rumah siswa, menurut informasi sepatu kekecilan, ujar Disdikbud Kaltim. Disdikbud juga menjelaskan kronologi kejadian nahas ini bisa terjadi.

Pihaknya mengatakan Mandala sedang mengikuti kegiatan praktek kerja pada 9 Februari–20 Maret 2026 di Ramayana Robinson Jalan M Yasmin Samarinda. Lokasi praktek kerja ini dinilai sesuai dengan jurusan yang diambil Mandala, yakni pemasaran. Pada 30 Maret 2026, Mandala sudah kembali ke sekolah dan mengikuti kegiatan belajar-mengajar.

Namun, keesokan harinya sekolah menyarankan Mandala untuk istirahat di rumah dan diantar pulang karena kondisi fisik yang menurun. Semenjak saat itu, Mandala tidak masuk sekolah karena sakit dan orang tua sudah mengirimkan izin. Pada 8 April 2026, melalui pesan singkat WhatsApp, ibundanya meminta bantuan untuk meminjam uang ke sekolah melalui wali kelas.

Wali kelas kemudian meminta ibu Mandala untuk datang ke sekolah untuk berkoordinasi. Undangan itu dipenuhi ibu Mandala pada 10 April 2026. Ketika bertemu, ia menyampaikan kondisi putranya dan menyebut ada penurunan karena gangguan non-medis. Sekolah membantu fasilitas permohonan biaya untuk pengobatan di Tenggarong sebesar Rp1,1 juta.

Sepuluh hari kemudian, tepatnya pada 21 April 2026, sekolah akhirnya melakukan kunjungan ke rumah Mandala. Pada kunjungan itu, ditemukan kondisi kaki Mandala lemas dan bengkak, tetapi tidak ada luka atau lecet. Melihat hal ini, para guru menyarankan agar melakukan pengobatan ke fasilitas kesehatan.

Namun, lantaran benturan ekonomi dan adanya tunggakan sebesar Rp2,4 juta yang belum dibayar, keluarga enggan melakukannya. Dalam beberapa hari terakhir, kondisi Mandala semakin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

Kabar meninggalnya Mandala telah menyita perhatian publik. Banyak pihak yang menyesalkan kejadian ini dan berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Dalam kesempatan ini, kita juga harus menyadari pentingnya perawatan kesehatan dan pencegahan penyakit untuk mencegah kejadian serupa.

Untuk itu, perlu dilakukan upaya pencegahan dan perawatan kesehatan yang lebih baik agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa depan. Peran orang tua, sekolah, dan masyarakat sangat penting dalam mencegah kejadian serupa dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan dan pencegahan penyakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *