Project Seru Penuh Kejutan

Tidak Ada Obat, Pemda Manggarai Timur Imbau Warga Ambil Langkah Mandiri Cegah Penularan Virus ASF pada Babi

April 9, 2026 • 0 Views
Tidak Ada Obat, Pemda Manggarai Timur Imbau Warga Ambil Langkah Mandiri Cegah Penularan Virus ASF pada Babi
Tidak Ada Obat, Pemda Manggarai Timur Imbau Warga Ambil Langkah Mandiri Cegah Penularan Virus ASF pada Babi

PSPK – 09 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mengeluarkan peringatan penting terkait pencegahan penyebaran virus African Swine Fever (ASF) yang telah menewaskan puluhan ekor babi milik peternak lokal pada dua bulan pertama tahun ini. Poster resmi yang dibagikan lewat media sosial menyatakan tidak ada obat bagi babi yang sudah terinfeksi, sehingga fokus utama diarahkan pada tindakan pencegahan.

Penularan virus ini dapat terjadi melalui kontak langsung dengan babi yang sakit, konsumsi daging babi mentah, serta perantara seperti lalat, kutu, pakan, dan pakaian peternak yang tidak steril. Karena tingkat kematian mencapai 100 persen, Dinas menekankan pentingnya biosekuriti ketat.

  • Jangan memberi sisa makanan kepada babi.
  • Lakukan karantina selama 30 hari untuk babi baru sebelum masuk kandang.
  • Bersihkan kandang secara rutin dengan desinfektan yang efektif.
  • Batasi kunjungan orang luar ke area kandang.

Warga setempat memberikan respons beragam. Damianus Parus dari Desa Satar Lahing, Kecamatan Rana Mese, menilai pemerintah perlu turun lebih aktif ke lapangan untuk melakukan sosialisasi rutin karena peternakan babi merupakan sumber utama pendapatan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa ASF pertama kali menyerang di wilayahnya sejak 2016 dan hampir seluruh populasi babi mati pada saat itu.

Sejak wabah pertama, banyak peternak menghentikan usaha ternak babi karena takut kehilangan hewan secara mendadak. “Dulu babi banyak sekali, sampai orang luar terkejut melihat banyaknya babi di jalan kampung,” ungkap Damianus. “Kini hanya beberapa orang saja yang masih memelihara.”

Warga lain, Yosefina, mengaku pernah memelihara tiga ekor babi. Setelah dua ekor tiba‑tiba mati, ia terpaksa menjual satu ekor yang tersisa karena khawatir akan mati juga. “Beternak babi dulu menjadi sumber penghasilan utama, bahkan pakan didapat dari kebun sendiri. Sekarang kami berhenti karena penyakit,” katanya.

Tahun Kecamatan dengan Kasus Terbanyak Total Kematian (ekor)
2025 Borong, Kota Komba, Kota Komba Utara, Rana Mese 840
2026 (hingga Maret) Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba —

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan, Kristo Hemo, menyampaikan bahwa selain ASF, sebelumnya juga pernah terdeteksi hog cholera, namun hasil laboratorium BBVet Denpasar memastikan ASF sebagai penyebab utama kematian pada 2025. Upaya penanggulangan meliputi pembagian desinfektan dan vaksin, meski jumlah vaksin masih terbatas. Sebanyak 500 dosis vaksin bantuan provinsi telah didistribusikan ke empat kecamatan terdampak, dan 600 liter desinfektan telah disalurkan ke 12 kecamatan sejak akhir 2025.

Para peternak berharap ke depan pemerintah tidak hanya fokus pada pencegahan, tetapi juga dapat menemukan obat atau terapi yang efektif bagi babi yang sudah terinfeksi ASF.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *