PSPK – 18 April 2026 | Sepak bola Italia berada pada titik terendah dalam hampir empat dekade. Kegagalan timnas gagal lolos Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berurutan serta eliminasi total klub-klub Italia dari Liga Champions, Liga Europa, dan Liga Konferensi menimbulkan krisis identitas yang mendalam.
Di panggung klub, Bologna dan Fiorentina tersingkir di fase grup Liga Europa dan Liga Konferensi masing‑masing pada hari Kamis, meninggalkan Italia tanpa perwakilan di kompetisi Eropa musim ini. Satu‑satunya tim yang masih bertahan, Atalanta, juga tereliminasi di perempat final Liga Champions bulan lalu. Ini pertama kalinya sejak musim 1986/87 tidak ada klub Italia yang mencapai semifinal di ketiga kompetisi kontinental utama.
Faktor‑faktor pemicu krisis
- Kegagalan timnas pada play‑off kualifikasi Piala Dunia melawan Bosnia & Herzegovina (penalti 4‑1) yang memaksa pelatih Gennaro Gattuso mengundurkan diri.
- Pengunduran diri Presiden FIGC Gabriele Gravina yang mengakui keruntuhan fondasi domestik.
- Komentar keras Fabio Capello dan Carlo Ancelotti menegaskan Italia berada pada titik terendah.
- Jarak finansial antara Serie A dan liga‑liga Eropa lainnya mengurangi daya tarik bagi pemain asing.
- Keterlambatan proyek stadion menjelang Euro 2032 menambah beban infrastruktur.
Kritik terhadap model taktik dan keuangan
Masalah infrastruktur menjelang Euro 2032
Italia, yang akan menjadi tuan rumah bersama Turki pada Euro 2032, menghadapi kritik karena sejumlah stadion belum memulai pembangunan. UEFA menegaskan bahwa jika fasilitas tidak selesai tepat waktu, turnamen dapat dipindahkan.
Langkah selanjutnya dan spekulasi kepemimpinan
Setelah pengunduran diri Gattuso dan Gravina, nama‑nama seperti Antonio Conte (manajer Napoli) dan Max Allegri (bos AC Milan) muncul sebagai kandidat utama pelatih timnas. Keputusan akhir diperkirakan baru akan diambil pada pemilihan FIGC tanggal 22 Juni.
Secara keseluruhan, sepak bola Italia kini berada pada fase transisi yang menuntut reformasi struktural total atau setidaknya pendekatan pembangunan kembali yang lebih pragmatis. Tekanan publik dan media semakin kuat, menuntut perubahan mendasar agar Italia dapat kembali bersaing di kancah internasional.












