Project Seru Penuh Kejutan

Sensitif soal Candaan, Bikin Baper atau Justru Semakin ‘Melek’? Ini Pandangan Ahli

April 18, 2026 • 0 Views
Sensitif soal Candaan, Bikin Baper atau Justru Semakin 'Melek'? Ini Pandangan Ahli
Sensitif soal Candaan, Bikin Baper atau Justru Semakin 'Melek'? Ini Pandangan Ahli

PSPK – 18 April 2026 | Kasus candaan seksual yang muncul dalam grup mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia menimbulkan perdebatan luas mengenai tingkat sensitivitas publik. Sebagian pihak menilai reaksi tersebut berlebihan dan sekadar bawa perasaan, sementara yang lain berpendapat bahwa isu ini memang layak diangkat karena menyentuh nilai‑nilai moral dan hak asasi.

Geofakta Razali, seorang pakar Komunikasi Psikologi, menjelaskan bahwa semakin tinggi kesadaran masyarakat terhadap isu‑isu sensitif, maka rasa sensitifitas akan meningkat. Ia menekankan bahwa sensitifitas bukan berarti lebay; melainkan tanda bahwa seseorang mulai mampu membedakan perilaku yang sehat dari yang tidak.

Contoh konkret dapat dilihat pada perubahan lingkungan pertemanan. Pada masa lalu, lelucon yang menyinggung tubuh atau orientasi seseorang mungkin dianggap biasa dan mengundang tawa. Namun, ketika individu berpindah ke lingkungan baru yang lebih menghargai keberagaman, mereka menyadari bahwa candaan semacam itu sebenarnya tidak dapat diterima.

Indah Sundari, S.Psi, M.Psi, seorang psikolog, menyoroti dampak diam bagi korban candaan seksis. Ia mengingatkan bahwa menahan diri tanpa mengungkapkan rasa tidak nyaman justru memperparah beban psikologis. “Diam bukan solusi; ia dapat memicu stres yang berujung pada depresi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa korban yang tidak menemukan ruang aman untuk berbicara akan mengalami penumpukan tekanan mental, yang pada akhirnya mengurangi kemampuan mereka untuk berpartisipasi secara aktif dalam lingkungan sosial.

Berbagai pihak menyerukan agar masyarakat berhenti menormalkan candaan seksis dalam pergaulan sehari‑hari. Upaya edukasi tentang pentingnya empati dan penghormatan terhadap perbedaan menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan sehat secara mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *