Project Seru Penuh Kejutan

Sains di Balik Tarian Rumi: Pengaruh Ritual Sufi pada Otak dan Kebahagiaan

April 4, 2026 • 0 Views
Sains di Balik Tarian Rumi: Pengaruh Ritual Sufi pada Otak dan Kebahagiaan
Sains di Balik Tarian Rumi: Pengaruh Ritual Sufi pada Otak dan Kebahagiaan

PSPK – 04 April 2026 | Selama berabad-abad tarian berputar yang dikenal sebagai Whirling Dervishes menjadi inti praktik spiritual Sufi yang dipopulerkan oleh Jalaluddin Rumi. Baru-baru ini penelitian ilmiah mengungkap bahwa gerakan tersebut memiliki efek biologis yang signifikan pada otak manusia.

Dalam sebuah sesi publik yang bertajuk “Between Brain and Soul: A Psychiatrist’s Perspective on Tasawuf and Mental Health”, Prof. Dr. Nevzat Tarhan, seorang psikiater terkemuka, memaparkan temuan penelitiannya pada tahun 2014. Ia menjelaskan bahwa saat seseorang melakukan tarian berputar dengan penuh kesadaran, area otak yang paling aktif adalah korteks prefrontal, bagian yang mengatur emosi, pengambilan keputusan, dan interaksi sosial. Aktivasi wilayah ini memicu pelepasan neurotransmiter yang berhubungan dengan perasaan bahagia, serupa dengan temuan pada praktisi meditasi Buddha.

Berikut ini beberapa elemen gerakan dalam tarian Rumi beserta implikasi neurosainsnya:

  • Putaran dari kiri ke kanan: Gerakan melingkar membantu menstabilisasi sistem saraf otonom, menurunkan tingkat stres, dan meningkatkan rasa tenang.
  • Tangan kanan mengangkat, tangan kiri menurunkan: Simbol penerimaan rahmat dan penyebaran energi positif, yang secara psikologis memperkuat perasaan makna dan keterhubungan sosial.
  • Kepala menunduk: Gestur rendah hati berperan mengurangi aktivasi area terkait ego, sehingga mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa rendah hati.
  • Melepaskan “jubah hitam” atau ikat pinggang hitam: Representasi pengendalian nafsu, yang dapat menurunkan aktivitas amigdala – pusat emosi takut – dan membantu regulasi emosional.

Prof. Tarhan menekankan bahwa kombinasi antara konsentrasi pada gerakan ritmis, pernapasan teratur, dan niat spiritual menciptakan keadaan neuroplastisitas yang mendukung kesehatan mental. Praktik tasawuf yang diajarkan Rumi lebih dari sekadar ritual budaya; ia berpotensi menjadi bentuk terapi tambahan bagi mereka yang mengalami stres, kecemasan, atau depresi.

Penelitian ini membuka peluang bagi bidang psikologi klinis untuk mengintegrasikan teknik gerakan meditatif tradisional ke dalam program terapi modern. Dengan memadukan akal dan spiritualitas, individu dapat mencapai keseimbangan emosional yang lebih stabil, bahkan dalam situasi yang paling menantang.

Penulis: Fany Wirda Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *