PSPK – 22 April 2026 | Striker muda Timnas Indonesia U-17, Mochamad Mierza Firjatullah, baru-baru ini mengungkapkan kekecewaan mendalam setelah mengalami cedera di laga terakhir Piala AFF U-17 2026. Cedera yang menurunkan performa pribadi sekaligus menambah beban mental tim, memaksa Mierza untuk menata kembali tekadnya menjelang Piala Asia U-17 2026.
Cedera dan Kekecewaan yang Menggelitik
Di zona mixed setelah pertandingan melawan tim tuan rumah, Mierza mengaku merasa “kecewa berat” karena cedera menghambat kontribusinya di lini serang. Ia menambahkan bahwa rasa frustasi tidak hanya pada dirinya, melainkan juga pada rekan-rekan yang harus menutupi kekosongan peran pentingnya.
“Saya memang ingin membantu tim lebih banyak, tapi cedera ini membuat saya harus menahan diri dan melihat teman-teman berjuang tanpa saya,” ujar Mierza dengan nada serius.
Transisi Pelatih: Dari Nova Arianto ke Kurniawan Dwi Yulianto
Perubahan kepelatihan yang terjadi pada awal tahun ini turut menambah tantangan adaptasi. Nova Arianto, yang sempat melatih skuad pada fase awal, digantikan oleh Kurniawan Dwi Yulianto. Mierza menegaskan bahwa secara prinsip tidak ada perbedaan mencolok dalam metode keduanya, namun proses adaptasi tetap krusial.
“Anak‑anak sempat dipegang coach Nova, kemudian coach Kurniawan. Mungkin butuh adaptasi saja,” kata Mierza di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, 19 April 2026.
Rekor Buruk Menjadi Peringatan
Statistik tim dalam Piala AFF U-17 2026 menunjukkan catatan yang mengkhawatirkan. Timnas Indonesia U-17 hanya meraih satu kemenangan dari tujuh laga, dengan total 20 gol kebobolan dan hanya 6 gol tercipta.
- 1 kemenangan (4‑0 melawan Timor Leste)
- 5 kekalahan (termasuk 0‑7 vs China)
- 1 hasil imbang
- 20 gol kebobolan
- 6 gol tercipta
Rekor ini menambah beban mental pada pemain muda, terutama menjelang grup B Piala Asia U-17 2026 yang berisi Jepang, China, dan Qatar.
Misi Bangkit di Piala Asia U-17 2026
Meski catatan buruk, Mierza menegaskan tekadnya untuk memimpin Garuda Muda kembali ke jalur kemenangan. Ia menyebut bahwa tekanan publik meningkat setelah Timnas Indonesia berhasil melaju ke Piala Dunia U-17 2025, sehingga ekspektasi terhadap penampilan tim kini lebih tinggi.
“Tekanan dulu masih anak‑anak, sekarang masyarakat menuntut penampilan lebih baik,” ujarnya. “Saya ingin menjadi contoh, menunjukkan bahwa cedera bukan akhir, melainkan awal kebangkitan.”
Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto pun mengakui perlunya perbaikan taktis dan mental. “Kita harus memperbaiki pertahanan, meningkatkan efisiensi serangan, dan menumbuhkan mental juara,” kata Kurniawan dalam konferensi pers pasca‑AFF.
Strategi yang diusulkan meliputi:
- Peningkatan sesi latihan fisik khusus untuk mengurangi risiko cedera.
- Penyesuaian formasi ofensif agar striker muda seperti Mierza dapat lebih leluasa.
- Simulasi pertandingan melawan gaya bermain Jepang, China, dan Qatar untuk meningkatkan kesiapan taktik.
Dengan pendekatan tersebut, Mierza berharap tim dapat menutup defisit gol dan kembali menampilkan permainan menyerang yang efektif.
Keberhasilan dalam turnamen Asia tidak hanya berarti lolos ke perempat final, melainkan juga membuka peluang tiket ke Piala Dunia U-17 2026. Karena itu, setiap poin di fase grup menjadi sangat vital.
Mierza menutup wawancara dengan pesan optimis: “Kami akan belajar dari kegagalan, memperbaiki diri, dan kembali bersinar di panggung Asia. Tim ini masih muda, masih banyak ruang untuk berkembang.”












