PSPK – 18 April 2026 | Kenaikan dramatis kecelakaan yang melibatkan sepeda listrik (e-bike) di Amerika Serikat menimbulkan kepanikan di kalangan tenaga medis, pembuat kebijakan, dan warga jalan. Data terbaru mengungkap bahwa lebih dari dua puluh ribu orang terluka pada tahun 2022, meningkat tajam dari hanya enam ratus pada 2018. Lonjakan ini beriringan dengan penjualan e-bike yang melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dalam kurun waktu empat tahun, menandakan tren penggunaan yang sulit diabaikan.
Statistik Mengkhawatirkan dan Dampak Kesehatan
Menurut laporan yang dipublikasikan dalam jurnal medis JAMA Surgery, tercatat 1.600 cedera e-bike pada 2018, naik menjadi 23.000 pada 2022. Di New York City, Departemen Transportasi melaporkan bahwa 17 orang tewas dalam kecelakaan e-bike pada tahun 2024, sementara ribuan lainnya mengalami luka serius, termasuk trauma otak dan cedera internal. Kasus paling menonjol melibatkan Roberta Simon, seorang pengacara yang dirawat empat hari di rumah sakit setelah tertabrak pengendara e-bike remaja di Central Park, menandai bahwa mayoritas kecelakaan bukan hanya melibatkan tabrakan antara kendaraan bermotor dan e-bike, tetapi juga melibatkan pejalan kaki.
Penyebab Utama Kecelakaan
Para pakar sepakat bahwa sebagian besar kematian e-bike disebabkan oleh kendaraan berat seperti mobil dan truk yang menabrak pengendara e-bike. Namun, perilaku berisiko seperti kecepatan tinggi, kurangnya helm, dan kurangnya pemahaman mengenai hak jalan menjadi faktor tambahan. Alexa Sledge, Direktur Komunikasi Transportation Alternatives, menekankan bahwa fokus utama harus pada perlindungan pengendara e-bike melalui infrastruktur yang lebih aman, bukan sekadar menilai kesalahan pengendara.
Langkah-Langkah Pemerintah Kota
Kota-kota besar di AS mulai menguji kombinasi registrasi wajib, regulasi kecepatan, dan perbaikan jaringan jalur sepeda. New York mempertimbangkan pembuatan jalur khusus e-bike yang terpisah dari jalur sepeda konvensional, sementara Los Angeles menyiapkan program pendaftaran nasional yang memudahkan pelacakan dan penegakan hukum. Beberapa kota juga mengusulkan batas kecepatan maksimum 25 km/jam untuk e-bike kelas 2, serta persyaratan penggunaan lampu depan dan belakang yang lebih kuat pada malam hari.
Infrastruktur dan Teknologi
Investasi dalam infrastruktur menjadi prioritas utama. Pembangunan jalur sepeda terpisah, penambahan tanda peringatan pada persimpangan, serta penggunaan sensor pintar untuk mendeteksi kehadiran e-bike dapat mengurangi risiko tabrakan. Selain itu, teknologi GPS dan aplikasi pelaporan kecelakaan memungkinkan otoritas mengumpulkan data real‑time untuk menilai titik rawan dan menyesuaikan kebijakan dengan cepat.
Peran Masyarakat dan Edukasi
Selain kebijakan, edukasi publik menjadi kunci. Kampanye keselamatan yang menekankan penggunaan helm, mematuhi batas kecepatan, dan menghormati pejalan kaki telah diluncurkan oleh organisasi non‑profit seperti Transportation Alternatives. Sekolah dan perusahaan juga diimbau menyelenggarakan pelatihan keselamatan e-bike, mengingat sebagian besar kecelakaan melibatkan pengendara muda yang kurang pengalaman.
Dengan pertumbuhan pasar e-bike yang diproyeksikan mencapai $6,2 miliar pada 2031, tekanan untuk menemukan keseimbangan antara inovasi mobilitas dan keselamatan publik semakin kuat. Pemerintah, produsen, dan masyarakat harus berkolaborasi menciptakan ekosistem yang mendukung penggunaan e-bike secara bertanggung jawab, sekaligus meminimalkan e-bike injuries yang semakin mengkhawatirkan.












