PSPK – 16 April 2026 | Kaspersky, perusahaan keamanan siber internasional, merilis laporan terbaru yang menyoroti besarnya ancaman digital di wilayah Asia Tenggara selama tahun 2025. Laporan tersebut mencatat bahwa lebih dari 18 juta upaya serangan web berhasil diidentifikasi dan diblokir, semuanya menargetkan sektor bisnis.
Data telemetri menunjukkan penjahat siber menggunakan beragam teknik, mulai dari situs yang diretas, unduhan berbahaya, hingga vektor lain yang bertujuan memperoleh akses tidak sah dan mencuri data sensitif perusahaan.
| Negara | Jumlah Deteksi |
|---|---|
| Vietnam | 8.437.695 |
| Malaysia | 3.361.453 |
| Indonesia | 3.014.870 |
| Singapura | 1.200.000 |
| Thailand | 1.150.000 |
Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, mencatat bahwa meskipun total ancaman secara kuantitatif mengalami penurunan, serangan yang menargetkan negara dengan pertahanan siber lebih matang, seperti Singapura dan Vietnam, justru meningkat. Hal ini mengindikasikan pergeseran fokus penjahat siber ke kualitas dan kompleksitas serangan.
Pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara diproyeksikan mencapai nilai US$1 triliun pada tahun 2030. Ketergantungan yang semakin besar pada platform digital mendorong perusahaan untuk meningkatkan alokasi anggaran ke bidang keamanan siber.
“Saya yakin bahwa solusi dan layanan keamanan siber akan menjadi salah satu investasi teknologi utama yang diprioritaskan tahun ini dan seterusnya,” ujar Hia dalam pernyataan resmi.
Untuk mengurangi risiko, Kaspersky menyarankan langkah‑langkah strategis berikut:
- Rutin melakukan pembaruan (patching) sistem operasi, browser, dan aplikasi untuk menutup celah kerentanan.
- Menerapkan kebijakan kata sandi yang kuat, unik, serta mengaktifkan otentikasi dua faktor (2FA) pada semua akun.
- Memanfaatkan layanan keamanan tingkat lanjut seperti Managed Detection and Response (MDR) dan Extended Detection and Response (XDR) untuk deteksi ancaman secara real‑time.
Dengan meningkatkan kesiapan teknis dan kesadaran keamanan, perusahaan di kawasan ini dapat melindungi operasi mereka di tengah lanskap ancaman yang terus berevolusi.












