PSPK – 07 April 2026 | Fenomena iklim yang dijuluki “Godzilla El Nino” diproyeksikan menguasai wilayah Indonesia pada pertengahan 2026, mengancam curah hujan selama tiga bulan sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan. Berbagai lembaga, mulai dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengingatkan publik untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi kekeringan ekstrem.
Apa Itu Godzilla El Nino?
Istilah “Godzilla” bukanlah kategori resmi dalam ilmu iklim. Ia pertama kali dipopulerkan oleh ilmuwan NASA pada 2015 untuk menggambarkan skenario El Nino dengan intensitas sangat tinggi. BRIN menegaskan bahwa istilah ini kembali muncul karena adanya kemungkinan kombinasi beberapa fenomena iklim, termasuk El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang dapat memperluas dampak kekeringan hingga ke seluruh kepulauan.
Wilayah Terancam di Seluruh Nusantara
Menurut proyeksi BMBM, periode paling rentan adalah Juni hingga Agustus 2026. Beberapa provinsi telah diidentifikasi sebagai zona rawan, antara lain:
- Riau
- Jambi
- Sumatera Selatan
- Kalimantan Selatan
- Jawa Timur (delapan kabupaten)
- Beberapa kabupaten di Pulau Madura
Daerah‑daerah ini diperkirakan akan mengalami penurunan curah hujan signifikan, penyusutan volume waduk, serta peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Jawa Timur: Delapan Kabupaten Rawan Kekeringan
BPBD Jawa Timur memetakan delapan kabupaten yang secara historis paling sering mengalami kekeringan pada musim kemarau. Daftar lengkapnya meliputi:
- Bojonegoro
- Lamongan
- Pacitan
- Trenggalek
- Kabupaten di Pulau Madura: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep
Pemerintah provinsi siap menyalurkan air bersih ke titik‑titik kritis serta melakukan pengeboran sumur resapan bila diperlukan. Gubernur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen provinsi untuk berkolaborasi dengan BPBD dalam mitigasi kekeringan.
Sumatera dan Kalimantan: Pusat Risiko Karhutla
Wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan berada pada posisi paling vulnerabel terhadap kebakaran hutan. Penurunan curah hujan mengakibatkan tanah menjadi kering, meningkatkan suhu permukaan, dan mempermudah penyebaran api. Pemerintah menyiapkan strategi pemadaman cepat, serta meningkatkan patroli di zona‑zona rawan.
Sentimen di Jawa Tengah: Antara Waspada dan Netral
Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah melaporkan kondisi atmosfer pada awal 2026 masih berada pada fase netral dengan indeks ENSO -0,28. Analis Zauyik menyatakan bahwa potensi El Nino lemah baru akan muncul pada semester kedua 2026, sehingga dampak langsung belum terasa. Meski demikian, wilayah timur laut Jawa Tengah sudah memasuki musim kemarau dan diperkirakan akan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.
Upaya Pemerintah dan Penyiapan Pangan
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menekankan bahwa stok pangan strategis negara telah dipersiapkan untuk mengantisipasi gangguan produksi akibat kekeringan. Proyeksi surplus hingga Mei 2026 mencakup:
- Gula: surplus 632 ribu ton (ketersediaan 1,81 juta ton vs kebutuhan 1,18 juta ton)
- Komoditas lain seperti beras dan minyak goreng juga berada dalam posisi surplus, mengurangi risiko kelangkaan pangan.
Selain penyediaan pangan, pemerintah daerah memperkuat jaringan distribusi air, meningkatkan kapasitas pompa, dan memfasilitasi penggunaan teknologi irigasi hemat air.
Kesimpulannya, Godzilla El Nino 2026 bukan sekadar prediksi ilmiah melainkan tantangan nyata bagi 15 wilayah di Indonesia. Koordinasi lintas lembaga, kesiapan logistik, serta partisipasi masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi dampak kekeringan, menjaga ketahanan pangan, dan mencegah kebakaran hutan yang dapat memperburuk situasi.










