PSPK – 23 April 2026 | Langit malam Indonesia pada akhir April 2026 akan dihiasi oleh hujan meteor Lyrid, salah satu pertunjukan astronomi tertua yang dapat disaksikan tanpa bantuan alat khusus.
Asal Usul dan Karakteristik
Hujan meteor ini terjadi ketika Bumi menembus jejak debu yang tersisa dari komet C/1861 G1 (Thatcher). Partikel-partikel kecil tersebut terbakar di atmosfer, menimbulkan kilatan yang disebut bintang jatuh. Komet Thatcher memiliki periode orbit sekitar 415 tahun dan diperkirakan akan kembali pada tahun 2276.
Jadwal Puncak di Indonesia
| Waktu (WIB) | Kegiatan |
|---|---|
| 23.00 – 01.30 | Peningkatan aktivitas awal |
| 02.00 – 04.00 | Puncak intensitas (10‑20 meteor/jam) |
| 04.00 – 05.30 | Penurunan aktivitas |
Cara Pengamatan Terbaik
- Pilih Lokasi Gelap: Hindari area dengan polusi cahaya tinggi, seperti kota besar. Tempat di pegunungan, pantai, atau daerah pedesaan terbuka memberikan kondisi terbaik.
- Gunakan Mata Telanjang: Mengamati dengan mata langsung memberi bidang pandang paling luas, sehingga peluang menangkap kilatan meteor meningkat.
- Biarkan Mata Beradaptasi: Beri waktu 15‑30 menit bagi mata menyesuaikan diri dengan kegelapan total, hindari menatap layar atau senter.
- Fokus pada Langit Luas: Walaupun radian utama berada di sekitar rasi Lyra, meteor dapat muncul dari segala arah. Berbaringlah dan amati seluruh langit secara menyeluruh.
- Periksa Cuaca: Pastikan langit bersih dari awan dan tidak ada gangguan hujan atau kabut.
- Bawa Perlengkapan Hangat: Suhu dini hari bisa turun drastis; pakailah jaket tebal, selimut, atau termos minuman hangat.
Dengan persiapan sederhana, Anda dapat menikmati pertunjukan Hujan Meteor Lyrid yang memukau dan menghubungkan diri dengan tradisi pengamatan langit yang telah berlangsung ribuan tahun.










