PSPK – 05 Maret 2026 | Jakarta, 4 Maret 2026 – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan dua hal penting yang menjadi sorotan publik akhir-akhir ini. Pertama, kematian seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara tidak ada hubungannya dengan konsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kedua, BGN tidak melarang warga mengunggah foto atau informasi tentang menu MBG ke media sosial, bahkan tidak akan melaporkan unggahan tersebut ke pihak kepolisian.
Fakta Medis di Balik Kasus Fatih
Menurut keterangan tertulis Nanik, siswa bernama Fatih pingsan sebelum sempat menyantap paket MBG yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giri Kencana. Setelah pingsan, Fatih dilarikan ke RS Lagita Ketahun dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 6, menandakan cedera otak berat. Karena keterbatasan fasilitas, korban kemudian dirujuk ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan CT‑scan yang mengungkap pendarahan otak hebat.
Setelah diagnosis, Fatih dipindahkan ke RS Tiara Sella, rumah sakit yang memiliki fasilitas bedah saraf. Operasi dilakukan, namun korban meninggal sekitar 12 jam kemudian. Semua temuan medis menegaskan bahwa penyebab kematian adalah pendarahan otak, bukan keracunan makanan.
Uji Laboratorium BPOM: Tidak Ada Kontaminan
Untuk menyingkirkan spekulasi tentang kontaminasi makanan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) segera melakukan uji laboratorium terhadap sampel MBG yang didistribusikan pada hari kejadian. Hasilnya, tidak terdeteksi bakteri E. coli, boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, atau zat berbahaya lainnya. Nanik menegaskan bahwa semua sampel menunjukkan hasil negatif.
- Jumlah paket MBG yang didistribusikan: 1.800 paket
- Kasus kesehatan yang dilaporkan pada hari itu: 1 kasus (Fatih)
- Hasil uji BPOM: Tidak ada kontaminan berbahaya
Penolakan Larangan Unggah Menu MBG di Media Sosial
Seiring dengan penyebaran rumor bahwa BGN melarang warga mengunggah foto atau menu MBG ke media sosial, Nanik memberikan klarifikasi tegas. Ia menyatakan bahwa tidak ada kebijakan internal yang melarang publikasi menu MBG secara daring. Bahkan, BGN tidak berencana melaporkan unggahan tersebut ke polisi, melainkan menghimbau masyarakat untuk tetap kritis namun bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi.
“Kami menghargai hak publik untuk mengawasi dan menilai kualitas program MBG. Namun, kami meminta agar setiap unggahan didasarkan pada fakta yang terverifikasi, bukan spekulasi yang dapat menimbulkan kepanikan,” ujar Nanik dalam sebuah wawancara.
Respons Masyarakat dan Pemerintah Daerah
Orang tua murid dan tokoh masyarakat di Bengkulu menyambut baik penjelasan BGN. Mereka menilai bahwa kejelasan fakta medis dan hasil uji laboratorium dapat meredam ketakutan berlebih. Pemerintah Provinsi Bengkulu juga menegaskan komitmennya untuk terus memantau pelaksanaan MBG, memastikan keamanan gizi bagi ribuan penerima manfaat.
Di sisi lain, aktivis digital menilai pentingnya kebebasan berbagi informasi, selama tidak mengandung fitnah. “Kita harus belajar membedakan antara kritik konstruktif dan penyebaran hoaks,” kata salah satu aktivis media sosial.
Kesimpulan
Kematian Fatih disebabkan oleh pendarahan otak, bukan keracunan menu MBG. Hasil uji BPOM mengonfirmasi tidak adanya zat berbahaya dalam makanan tersebut. Sementara itu, BGN menolak keras adanya larangan mengunggah foto atau informasi menu MBG ke media sosial, menekankan pentingnya penyebaran informasi berbasis fakta. Dengan penjelasan resmi ini, diharapkan publik dapat menerima informasi yang akurat dan menjaga kepercayaan terhadap program gizi nasional.












