PSPK – 29 Maret 2026 | Jakarta – Penyakit kardiovaskular tetap menjadi ancaman utama kesehatan global, mencatat hampir 20 juta kematian pada 2022. Di Indonesia, prevalensi penyakit jantung mengalami lonjakan tajam menjadi 1,08 % pada 2023, lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.
Pada 28 Maret 2026, Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FASCC, FSCAI resmi diangkat sebagai Guru Besar bidang Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH). Pengukuhan ini menjadikannya guru besar ke‑45 di institusi tersebut.
Dalam orasi ilmiah berjudul “Kalsifikasi Koroner: Jendela untuk Memahami Penuaan Dinding Arteri Menuju Pencegahan Kardiovaskular Berbasis Risiko”, Prof. Antonia menekankan peran kalsifikasi koroner sebagai alat deteksi dini yang dapat memperkirakan risiko kardiovaskular.
Kalsifikasi Koroner sebagai Jendela Kesehatan Jantung
Kalsifikasi koroner adalah penumpukan kalsium pada dinding arteri koroner yang biasanya terjadi seiring proses penuaan atau dipercepat oleh faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi. Menurut Prof. Antonia, temuan ini bukan sekadar citra radiologis, melainkan cerminan perubahan biologis jangka panjang pada dinding arteri.
Dengan teknologi pencitraan modern, dokter dapat mengklasifikasikan pasien berdasarkan tingkat kalsifikasi, sehingga:
- Tingkat kalsifikasi tinggi menunjukkan adanya plak aterosklerotik yang luas dan risiko kejadian kardiovaskular yang lebih besar.
- Ketiadaan atau kalsifikasi rendah memungkinkan fokus pada modifikasi gaya hidup dan intervensi preventif.
Peran Teknologi dan Kecerdasan Buatan
Prof. Antonia menyoroti pentingnya integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam pengukuran kalsifikasi. AI dapat meningkatkan efisiensi, konsistensi, dan akurasi skrining oportunistik, sebuah pendekatan yang sangat relevan bagi sistem kesehatan Indonesia dengan sumber daya terbatas namun beban penyakit jantung yang tinggi.
“Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, membuka peluang baru untuk menjadikan kalsifikasi koroner sebagai alat skrining yang lebih luas dan efisien. Namun, implementasinya harus disesuaikan dengan konteks lokal agar memberikan manfaat optimal bagi individu maupun populasi,” ujar Prof. Antonia.
Apresiasi dan Harapan
Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, menyatakan kebanggaannya atas pengukuhan Prof. Antonia sebagai guru besar ke‑45. Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, Dr. (H.C.) James T. Riady, menilai Prof. Antonia sebagai dokter cerdas yang berdedikasi dalam melayani dan mendidik generasi dokter muda. Selain itu, pendiri Lippo Group, Dr. (H.C.) Mochtar Riady, menekankan bahwa penambahan guru besar ini memperkuat fondasi pendidikan nasional.
Dekan FK UPH, Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, berharap Prof. Antonia terus berkontribusi pada upaya memperluas akses layanan kesehatan ke seluruh wilayah Indonesia.
Pengukuhan ini tidak hanya menambah reputasi akademik UPH, tetapi juga menegaskan komitmen institusi dalam menghasilkan tenaga medis yang profesional, kompeten, dan berintegritas.












