PSPK – 17 Maret 2026 | Tim peneliti pada 16 Maret 2026 melakukan analisis mendalam terhadap aktivitas matahari dan kondisi cuaca luar angkasa yang dapat memicu fenomena aurora borealis di Bumi.
Beberapa komponen utama yang dipantau meliputi pelepasan massa koronal (CME), lubang koronal, serta kecepatan dan kepadatan angin matahari. Kedua faktor tersebut dapat mengirimkan partikel bermuatan tinggi ke arah magnetosfer Bumi.
Indeks Kp yang tinggi menjadi indikator kuatnya aktivitas aurora. Nilai Kp biasanya dihitung berdasarkan pengukuran geomagnetik global dan semakin tinggi angka Kp, semakin intens cahaya aurora yang dapat terlihat.
Faktor krusial lainnya adalah orientasi komponen Bz dari medan magnet interplanetary. Bz yang mengarah ke selatan (negatif) dapat membuka koneksi magnetik antara angin matahari dan magnetosfer Bumi, memungkinkan aliran partikel masuk lebih mudah.
- Bz selatan yang kuat meningkatkan kemungkinan terjadinya aurora dengan intensitas tinggi.
- CME yang menabrak Bumi dapat memicu gangguan geomagnetik dalam hitungan jam.
- Lubang koronal menghasilkan aliran angin matahari berkecepatan tinggi yang berkelanjutan.
Jika kombinasi Bz selatan yang signifikan dan indeks Kp di atas 5 tercapai, peluang melihat aurora borealis di lintang menengah menjadi sangat besar. Peneliti terus memantau data real‑time melalui platform seperti SpaceWeatherLive untuk memberikan peringatan dini kepada publik.












