PSPK – 10 Maret 2026 | Setiap orang tua pasti pernah mengalami situasi di mana bayi menangis terus-menerus meski sudah kenyang, popok bersih, dan tidak demam. Tangisan yang berkepanjangan pada waktu malam sering kali menimbulkan kekhawatiran, terutama bila tidak ada penyebab yang jelas. Kondisi ini dikenal sebagai kolik, sebuah fenomena yang belum memiliki penyebab tunggal namun dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kolik bukan hasil dari satu penyebab saja, melainkan kombinasi sejumlah elemen yang berinteraksi dengan sistem pencernaan dan saraf bayi. Berikut adalah sembilan faktor yang sering dikaitkan dengan munculnya kolik:
- Paparan asap rokok – Bayi yang lahir dari ibu perokok atau yang terpapar asap rokok pasca lahir memiliki risiko lebih tinggi mengalami kolik karena nikotin dan zat kimia lain dapat mengiritasi saluran pencernaan.
- Stimulasi berlebihan – Lingkungan yang terlalu ramai, cahaya terang, suara keras, atau sering digenggam dapat membuat bayi merasa tegang dan mengekspresikannya lewat tangisan panjang.
- Masalah pada sistem pencernaan – Perut kembung, pemberian susu yang tidak tepat (terlalu banyak atau terlalu sedikit), serta sistem pencernaan yang belum matang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.
- Intoleransi atau alergi protein susu – Sekitar 2‑3% bayi mengalami nyeri perut karena alergi atau intoleransi terhadap protein susu sapi, terutama pada bayi yang mengonsumsi susu formula.
- Sensitivitas terhadap makanan ibu menyusui – Zat-zat tertentu dalam makanan ibu, seperti produk susu, telur, kacang, gandum, kedelai, atau ikan, dapat masuk lewat ASI dan menyebabkan ketidaknyamanan pada bayi.
- Refluks gastroesofageal (GERD) – Bayi dengan GERD sering muntah, tampak tidak nyaman setelah menyusu, dan kadang pertumbuhannya terhambat.
- Ketidakseimbangan bakteri usus – Mikroflora usus bayi dengan kolik sering berbeda dibandingkan bayi yang tidak kolik, menandakan peran bakteri baik dalam kesehatan pencernaan.
- Kadar serotonin yang tinggi – Serotonin berperan dalam kontraksi otot usus; beberapa penelitian menemukan bayi kolik memproduksi serotonin dalam jumlah lebih tinggi.
- Stres dalam keluarga – Kecemasan atau depresi pada ibu, baik selama kehamilan maupun setelah melahirkan, dapat memengaruhi pola tangisan bayi.
Walaupun kolik tidak berbahaya dalam jangka panjang, dampaknya terhadap energi orang tua dan suasana hati keluarga cukup signifikan. Memahami faktor-faktor di atas dapat membantu orang tua mengidentifikasi penyebab potensial dan mencoba langkah-langkah penyesuaian, seperti mengurangi paparan asap rokok, menstabilkan jadwal menyusui, atau berkonsultasi dengan dokter anak untuk evaluasi alergi atau refluks.
Dengan pendekatan yang lebih holistik, diharapkan tangisan tengah malam dapat berkurang dan kesejahteraan seluruh anggota keluarga meningkat.












