PSPK – 16 Maret 2026 | Warga Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, dikejutkan pada 9 Maret 2026 dengan penemuan puluhan paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) yang terdampar di Pantai Batutua, Kecamatan Rote Barat Daya. Kejadian berlanjut keesokan harinya di Pantai Mbadokai, yang juga berada di wilayah yang sama.
Kedua pantai tersebut berdekatan dengan Laut Sawu, salah satu jalur migrasi utama paus. Warga segera melaporkan temuan kepada pangkalan TNI Angkatan Laut Pulau Rote, yang kemudian meneruskannya ke Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Kupang, wilayah kerja Rote Ndao.
Selama dua hari, tim BPK bersama relawan masyarakat sipil dan aparat keamanan berupaya mengevakuasi paus-paus tersebut kembali ke perairan. Namun, kondisi gelombang tinggi dan banyaknya individu yang terdampar membuat proses penyelamatan menjadi sangat menantang.
Dari total 55 paus yang ditemukan, 21 ekor dinyatakan mati, termasuk empat anak paus. Jasanya dikubur di tepi pantai menggunakan ekskavator. Sisa 34 ekor berhasil kembali ke Laut Sawu. Panjang paus terbesar tercatat 5,1 meter, sementara yang terkecil berukuran 2,4 meter.
| Status | Jumlah |
|---|---|
| Mati | 21 |
| Selamat | 34 |
Tim BPK, dipimpin oleh Imam Fauzi, melakukan nekropsi terbatas pada mayat-mayat tersebut. Karena keterbatasan peralatan, hanya dugaan penyebab yang dapat disimpulkan pada 12 Maret, sementara hasil definitif diperkirakan memerlukan dua pekan lagi.
Peneliti mamalia laut Liza Kusuma Mustika dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menekankan bahwa fasilitas nekropsi di Indonesia masih belum memadai untuk cetacea. Ia juga mencatat kurangnya dokter hewan yang memiliki keahlian khusus dalam nekropsi paus, meskipun pelatihan telah dilakukan di beberapa daerah termasuk NTT.
Paus pilot hidup berkelompok dan mengandalkan ekolokasi untuk navigasi, berburu, serta melindungi diri. Migrasi tahunan mereka mencakup perjalanan sekitar 3.200 kilometer dari perairan selatan Australia ke perairan hangat Indonesia, melewati Laut Sawu pada periode puncak Januari‑Juni.
Beberapa ancaman terhadap migrasi mereka meliputi sampah plastik, jaring ikan yang terbengkalai, serta polusi suara yang berasal dari mesin kapal dan survei seismik untuk eksplorasi migas lepas pantai. Laut Sawu sendiri merupakan zona eksplorasi migas, namun peta resmi belum menampilkan detail jalur aktif maupun non‑aktif.
Polusi suara dapat mengganggu sistem ekolokasi paus, menyebabkan kebingungan dalam navigasi dan berpotensi menimbulkan kerusakan fisik pada organ ekolokasi. Penelitian sebelumnya menemukan kerusakan pada organ tersebut pada paus yang terdampar, yang dapat memicu kebingungan, kelelahan, dan akhirnya terdampar.
Selain plastik, tim nekropsi juga menemukan material seperti jaring pancing dan puing kapal dalam tubuh paus pada insiden terdahulu sejak 2018. Namun, hingga kini, penyebab pasti dari terdamparnya puluhan paus pilot di Rote masih menunggu hasil nekropsi yang lengkap.
Pemerintah setempat berjanji akan meningkatkan kemampuan laboratorium dan memperkuat kerja sama dengan lembaga ilmiah untuk mempercepat analisis serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada kejadian serupa di masa depan.










