PSPK – 07 Maret 2026 | Jakarta, 6 Maret 2026 – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyelenggarakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) Goes to School di Pondok Pesantren Darul Falah, Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. Acara ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menurunkan angka stunting dan menyiapkan generasi emas 2045.
Selain penyediaan makanan bergizi, kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk mengedukasi santri tentang pentingnya asupan gizi seimbang bagi pertumbuhan fisik dan kecerdasan kognitif. Pada hari yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid meluncurkan Peraturan Menteri No. 9 Tahun 2026 yang mengatur perlindungan anak di ruang digital.
Bayu Rakhmana, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, menilai program ini sebagai langkah mulia untuk meningkatkan kesadaran hak anak atas gizi yang cukup. “Program ini bertujuan mulia untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran kita semua tentang betapa pentingnya pemenuhan hak anak atas gizi yang seimbang,” ujarnya.
Peraturan Menteri No. 9/2026 menyatakan bahwa anak di bawah 16 tahun tidak boleh memiliki akun pada platform digital berisiko tinggi. Plt. Direktur Komunikasi Publik Marroli Jeni Indarto menjelaskan, “Kami memahami langkah ini mungkin menimbulkan ketidaknyamanan di awal, namun perlindungan anak harus menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, platform, dan orang tua.”
Ahli gizi dari Badan Gizi Nasional, Anyelir Puspa Kemala, memaparkan standar gizi MBG. Menu disusun dengan memperhatikan komoditas keanekaragaman hayati dan dibagi secara proporsional:
- Dua pertiga menu terdiri dari makanan pokok (beras, jagung, atau sagu) dan sayuran.
- Satu pertiga sisanya berupa lauk-pauk yang kaya protein, seperti ikan, tempe, atau kacang‑kacangan.
Rita Kartika, Penata Kelola Layanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, menambahkan bahwa komposisi tersebut harus dipatuhi untuk memastikan kualitas gizi. “Jika tidak sesuai, kami berhak mengajukan protes,” katanya sambil mengingatkan anak‑anak tetap kritis terhadap apa yang mereka terima.
Acara MBG Goes to School juga dimeriahkan dengan lomba memasak yang diikuti oleh santri Darul Falah. Kompetisi tersebut menantang peserta menciptakan hidangan bergizi dengan bahan sederhana, sekaligus menanamkan nilai pentingnya kecukupan gizi dalam pola makan sehari‑hari.
Sejak peluncuran pertama tahun lalu, program MBG telah mencakup hampir seluruh wilayah Bandung Barat dan terus diperluas ke provinsi lain. Kombinasi antara penyediaan makanan, edukasi gizi, dan regulasi digital diharapkan dapat memperkuat fondasi kesehatan fisik dan mental generasi muda Indonesia.












