PSPK – 26 Maret 2026 | Seorang gamer berusia 91 tahun asal Tiongkok, Yang Binglin, kembali menjadi sorotan setelah berhasil menamatkan Resident Evil Requiem tanpa bantuan walkthrough atau panduan daring. Keberhasilan ini menegaskan bahwa pengalaman bermain game tidak terikat oleh usia, melainkan oleh ketekunan dan pendekatan sistematis.
Yang, mantan engineer industri minyak dan gas yang pensiun pada 1996, menerapkan cara berpikir analitisnya ke dalam dunia game. Selama proses bermain, ia mencatat setiap detail penting secara manual: rute peta, solusi puzzle, dan pola pergerakan musuh. Beberapa bagian peta bahkan digambar ulang di buku catatannya, sehingga ia memiliki referensi visual yang lengkap tanpa harus membuka internet.
Metode tradisional ini kontras tajam dengan kebiasaan pemain modern yang mengandalkan video tutorial di YouTube, thread di Reddit, atau forum game. Bagi Yang, proses eksplorasi dan pencatatan menjadi inti dari pengalaman bermain, bukan sekadar mengejar kecepatan atau skor.
- Catatan tangan: Setiap langkah, item penting, dan kombinasi tombol dituliskan secara detail.
- Gambar ulang peta: Memudahkan navigasi di area kompleks dan menghindari kebingungan.
- Analisis pola musuh: Membantu merencanakan strategi menghindar atau melawan secara efisien.
Resident Evil Requiem dikenal sebagai salah satu game survival horror yang menantang, menggabungkan reflex cepat, manajemen sumber daya, serta puzzle berlapis. Banyak pemain mengandalkan panduan untuk melewati rintangan tersebut, sehingga pencapaian Yang menjadi bukti bahwa pendekatan metodis masih relevan.
Di platform Bilibili, Yang aktif sebagai streamer. Gaya bermainnya yang sabar dan terstruktur menarik perhatian penonton yang menghargai proses belajar mandiri. Sebelumnya, pada usia 88 tahun, ia telah mencatatkan rekor sebagai streamer pria tertua dalam Guinness World Records. Keberhasilan menamatkan Resident Evil Requiem menambah daftar prestasinya dan memperkuat citra bahwa gaming tidak mengenal batas usia.
Reaksi komunitas game beragam, namun dominasi apresiasi tampak jelas. Banyak yang menyebut pencapaian ini sebagai contoh “gaming sesungguhnya”—kembali ke era eksplorasi, ingatan, dan dedikasi pribadi tanpa bantuan instan dari internet.












