PSPK – 12 Maret 2026 | Arema FC kembali menjadi sorotan tajam Liga Super 2025/2026 setelah mencatatkan rekor negatif yang belum pernah terjadi dalam beberapa musim terakhir. Klub yang dikenal dengan julukan Singo Edan ini kini harus menelan empat laga beruntun tanpa kemenangan, hanya mengumpulkan satu poin dari serangkaian pertandingan yang penuh drama, termasuk insiden kartu merah yang menambah beban mental pemain.
Pertandingan terakhir melawan Bhayangkara FC pada pekan ke‑25 berakhir dengan skor 2‑1 untuk pihak tamu. Vinicius sempat membuka keunggulan Arema melalui umpan terobosan Dalberto, namun gol tersebut tidak cukup untuk menahan serangan balasan Bhayangkara yang berhasil menyamakan kedudukan pada babak pertama dan kemudian mencetak dua gol penentu di babak kedua. Kekalahan ini menambah catatan buruk Arema yang kini menempati peringkat ke‑11 dengan 31 poin, jauh dari zona aman papan atas.
Statistik Kegagalan dan Kartu Merah
Empat laga beruntun tanpa kemenangan (2‑1 melawan Bhayangkara, 2‑2 melawan Madura United, 3‑1 melawan Borneo FC, dan 3‑4 melawan Bali United) menunjukkan kerentanan lini belakang Arema. Selama periode tersebut, lini belakang telah kebobolan 11 kali, rata‑rata hampir tiga gol per pertandingan, sementara lini serang hanya mampu menambah satu gol saja. Selain itu, werep wasit Yudai Yamamoto yang menyingkirkan empat pemain Arema dengan kartu merah dalam dua laga terakhir menambah beban disiplin tim.
- Jumlah kartu merah: 4 (dua dalam pertandingan melawan Bhayangkara, satu melawan Madura United, satu melawan Bali United).
- Kartu kuning rata‑rata: 5 per laga.
- Total gol kebobolan dalam 4 laga: 11.
- Gol yang dicetak: 1.
Kondisi ini memaksa pelatih Marcos Santos untuk mempertimbangkan perubahan taktis dan rotasi pemain, terutama mengingat keputusan wasit yang dinilai kontroversial banyak menuai kritik dari tokoh pers dan fans.
Persaingan Top Scorer dan Dampaknya pada Arema
Di tengah krisis tim, persaingan menjadi top scorer sementara BRI Super League semakin ketat. Pemain Brasil Mariano Peralta masih memimpin klasemen pencetak gol, namun pemain serba bisa seperti Vinicius dari Arema FC berusaha menambah poin pribadi. Sayangnya, peluang Vinicius untuk menambah gol terbatas karena tim sering terpaksa beralih ke pertahanan setelah kebobolan berulang.
Selain Vinicius, pemain asing lain di Liga juga menunjukkan performa mengesankan, menambah tekanan pada Arema untuk meningkatkan kontribusi ofensif. Jika Arema tidak mampu menurunkan angka gol, posisi mereka di papan klasemen dapat turun lebih jauh, mengancam peluang lolos dari zona degradasi.
Reaksi Manajer dan Harapan Kedepan
Marcos Santos dalam konferensi pers terakhir menegaskan bahwa tim tidak akan menyerah pada tekanan. “Kami akan evaluasi taktik, memperbaiki disiplin, dan memberi kesempatan kepada pemain muda yang siap membuktikan diri,” ujarnya. Santos juga menambahkan bahwa klub sedang membuka pembicaraan dengan beberapa pemain lokal untuk memperkuat lini belakang.
Di sisi lain, fans Arema yang dikenal vokal melalui media sosial menuntut kejelasan mengenai masa depan pelatih dan kebijakan transfer. Mereka mengharapkan perbaikan segera, terutama dalam hal pengelolaan kartu merah dan peningkatan pertahanan.
Dengan jadwal pertandingan yang masih panjang, Arema FC memiliki kesempatan untuk memulihkan diri pada laga berikutnya melawan Persija Jakarta. Jika tim dapat menahan serangan lawan dan memanfaatkan peluang gol, setidaknya mereka dapat menghentikan tren negatif dan kembali bersaing di posisi menengah klasemen.
Secara keseluruhan, Arema FC berada pada persimpangan penting. Kombinasi antara perbaikan taktik, kontrol disiplin, dan kontribusi pemain kunci akan menentukan apakah Singo Edan mampu keluar dari krisis ini atau terus terpuruk dalam kompetisi yang semakin kompetitif.












