PSPK – 13 Maret 2026 | Jakarta – Pola makan anak-anak dan remaja di seluruh dunia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan produk ultra‑proses meningkat tajam, sementara asupan buah, sayur, dan sumber protein tetap rendah.
Kenaikan Obesitas Anak Secara Global
Data UNICEF mengungkap bahwa sekitar satu dari lima anak berusia 5–19 tahun kini mengalami kelebihan berat badan, dan satu dari dua puluh anak di bawah lima tahun menghadapi kondisi serupa. Dalam dua dekade terakhir, jumlah anak usia sekolah dan remaja dengan kelebihan berat badan melonjak lebih dari dua kali lipat, dari sekitar 194 juta pada tahun 2000 menjadi diproyeksikan 391 juta pada 2025.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tingkat obesitas pada kelompok usia 5–19 tahun (9,4 %) melampaui tingkat kekurangan berat badan (9,2 %). Perubahan ini menandai pergeseran signifikan dalam krisis gizi global, di mana kelebihan berat badan kini menjadi ancaman utama bagi kesehatan generasi muda.
Pola Konsumsi Gula dan Makanan Olahan
- 60 % remaja mengonsumsi makanan atau minuman manis setidaknya sekali sehari.
- 32 % remaja rutin meminum minuman bersoda.
- 25 % mengonsumsi makanan olahan asin lebih dari satu kali dalam sehari.
Di sisi lain, banyak anak berusia 6–23 bulan belum mendapatkan makanan bergizi penting seperti buah, sayur, telur, atau sumber protein hewani, yang seharusnya menjadi bagian utama pola makan sehat pada masa pertumbuhan.
Dampak Besar Iklan Junk Food
Industri makanan ultra‑proses memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan pangan yang tidak sehat bagi anak. Makanan cepat saji, camilan tinggi garam, serta minuman manis kini mudah diakses dan dipasarkan secara agresif melalui televisi, media digital, permainan daring, hingga media sosial.
Survei global menunjukkan tiga dari empat anak dan remaja terpapar iklan makanan tidak sehat setidaknya sekali dalam seminggu. Paparan iklan yang masif ini memengaruhi preferensi makanan sejak dini, mendorong konsumsi produk tinggi gula, garam, dan lemak.
Risiko Kesehatan Jangka Panjang
UNICEF memperingatkan bahwa tren ini dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular di masa depan, termasuk diabetes dan penyakit jantung. Selain dampak kesehatan individu, peningkatan obesitas dapat menambah beban ekonomi dan sistem kesehatan negara-negara di seluruh dunia.
Tanpa intervensi kebijakan yang kuat—seperti regulasi pemasaran makanan kepada anak dan peningkatan akses terhadap makanan bergizi—generasi muda akan terus berada dalam risiko menghadapi krisis kesehatan yang lebih kompleks.












