Project Seru Penuh Kejutan

Harga Minyak Kembali Menembus $100 per Barrel di Tengah Ketegangan di Teluk Persia

March 12, 2026 • 0 Views
Harga Minyak Kembali Menembus $100 per Barrel di Tengah Ketegangan di Teluk Persia
Harga Minyak Kembali Menembus $100 per Barrel di Tengah Ketegangan di Teluk Persia

PSPK – 12 Maret 2026 | Pasar energi global kembali bergejolak pada hari Selasa, 12 Maret 2026, ketika harga minyak mentah melampaui level $100 per barrel untuk kedua kalinya dalam seminggu. Lonjakan ini dipicu oleh serangkaian serangan terhadap kapal kargo dan instalasi energi di Selat Hormuz, serta ketegangan militer yang terus meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Lonjakan Harga Minyak

Menurut laporan NBC News, harga minyak mentah naik tajam hingga di atas $120 pada puncaknya sebelum turun kembali di bawah $100. Meskipun harga sempat turun, pada pukul 05.00 ET kembali menanjak menjadi sekitar $92 per barrel, menandakan pasar belum menemukan titik keseimbangan.

International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa konflik di kawasan tersebut menciptakan “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global”. IEA juga mengungkapkan bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz telah berkurang menjadi “segelintir” karena ancaman serangan Iran terhadap kapal milik Amerika Serikat, Israel, atau sekutu mereka.

Serangan Terhadap Kapal dan Infrastruktur Energi

BBC melaporkan bahwa tiga kapal kargo tambahan diserang pada malam sebelumnya. Dua tanker minyak terkena proyektil tak dikenal di perairan Irak, sementara sebuah kapal kontainer di dekat Uni Emirat Arab juga menjadi sasaran. Salah satu serangan menewaskan satu awak kapal milik Amerika Serikat yang berlayar di perairan selatan Irak.

Selain itu, Iran dilaporkan menargetkan fasilitas minyak di Arab Saudi, bandara di Bahrain, serta gedung pencakar langit di Dubai dengan drone. Serangan-serangan ini menambah kekhawatiran akan keamanan jalur pengiriman energi utama dunia.

Respons Internasional dan Upaya Menstabilkan Pasar

Kremlin menyatakan sedang mengadakan diskusi dengan Washington untuk mencari cara kerja sama dalam menstabilkan pasar energi yang terguncang. Juru bicara Dmitry Person menekankan pentingnya interaksi antara Rusia dan Amerika Serikat, meski belum ada konfirmasi resmi dari Gedung Putih.

Pemerintah Amerika Serikat baru-baru ini mengeluarkan waiver 30 hari yang memungkinkan India membeli minyak Rusia, sementara Presiden Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan pencabutan sanksi pada produk minyak negara tertentu. Trump juga menegaskan bahwa “harga minyak akan turun lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang”.

Dampak pada Ekonomi Global dan Konsumen

Fluktuasi harga minyak berdampak langsung pada biaya transportasi udara. Cathay Pacific mengumumkan kenaikan surcharge bahan bakar hingga dua kali lipat, dengan tarif tambahan hampir US$150 per penerbangan ke Amerika Serikat. Air India dan maskapai regional lainnya juga mengikuti jejak peningkatan biaya bahan bakar.

Analisis dari bank ING menunjukkan bahwa meskipun IEA merilis 400 juta barrel cadangan minyak — jumlah terbesar dalam sejarah — pasar belum merespon secara signifikan karena ketidakpastian mengenai kecepatan distribusi cadangan tersebut dan belum adanya tanda-tanda de‑eskalasi di Teluk Persia.

Prospek Harga Minyak ke Depan

Para pakar memperkirakan bahwa harga minyak akan tetap volatil dalam jangka pendek. Kunci utama adalah apakah serangan terhadap kapal dapat dihentikan dan apakah Selat Hormuz dapat dibuka kembali untuk lalu lintas perdagangan. Selama konflik berlanjut, tekanan pada harga akan terus ada, memaksa produsen energi dan konsumen untuk menyesuaikan strategi mereka.

Secara keseluruhan, situasi geopolitik di Timur Tengah kini menjadi faktor dominan yang menentukan arah pasar minyak dunia. Dengan lebih dari tiga puluh dua negara yang sepakat melepaskan cadangan minyak bersama, tekanan pada harga tetap tinggi karena ancaman terus menerus terhadap jalur pengiriman utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *