PSPK – 12 Maret 2026 | Perang yang melibatkan Iran telah mengguncang pasar energi global, mendorong harga minyak mentah naik tajam hingga lebih dari $150 per barel. Kenaikan ini langsung memengaruhi biaya operasional maskapai penerbangan, terutama bahan bakar jet yang menjadi komponen biaya terbesar setelah tenaga kerja.
Beberapa maskapai internasional, termasuk Qantas Airways (Australia), SAS (Skandinavia), dan Air New Zealand, mengumumkan penyesuaian tarif pada bulan Maret. Qantas menambah tarif internasional dan mempertimbangkan pengalihan kapasitas ke rute Eropa untuk menghindari zona konflik di Timur Tengah. SAS menyatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar memaksa mereka menerapkan “penyesuaian harga sementara” dan menunda strategi lindung nilai selama 12 bulan ke depan.
Air New Zealand menerapkan kenaikan tarif satu‑arah sebesar NZ$10 untuk penerbangan domestik, NZ$20 untuk layanan internasional jarak pendek, dan NZ$90 untuk rute jarak jauh. Hong Kong Airlines menambah biaya bahan bakar hingga 35,2 % pada rute tertentu, terutama antara Hong Kong dan destinasi di Asia Selatan.
- Qantas – kenaikan tarif internasional, pertimbangan alih rute ke Eropa.
- SAS – penyesuaian harga sementara, penghentian lindung nilai 12 bulan.
- Air New Zealand – +NZ$10 (domestik), +NZ$20 (jarak pendek), +NZ$90 (jarak jauh).
- Hong Kong Airlines – biaya bahan bakar naik 35,2 % pada rute utama.
- British Airways – tidak ada perubahan tarif karena lindung nilai yang kuat.
Situasi ini juga memperburuk tekanan pada ruang udara. Pesawat yang hendak mendarat di Dubai sempat ditahan karena ancaman rudal, dan maskapai‑maskapai Eropa mengalihkan rute untuk menghindari wilayah udara Timur Tengah yang berisiko. Penutupan sebagian ruang udara menurunkan kapasitas pada rute Asia‑Eropa, memaksa penumpang mencari alternatif yang lebih mahal.
Reaksi pasar saham menunjukkan pola yang beragam. Saham maskapai Eropa naik antara 4 %–7 % setelah harga minyak turun kembali ke sekitar $90 per barel, sementara saham maskapai Amerika Serikat (Delta, United, Southwest, American) mengalami penurunan 2 %–4 % karena eksposur lindung nilai yang lebih rendah.
Para analis memperingatkan bahwa bila konflik berlanjut, tidak hanya harga bahan bakar yang dapat tetap tinggi, tetapi pasokan bahan bakar juga berisiko terbatas. Kuwait, salah satu eksportir utama jet fuel ke Eropa barat laut, telah mengurangi produksinya, menambah kekhawatiran akan kelangkaan di masa depan.
Dengan biaya bahan bakar yang kini menyerap antara 20 %–25 % dari total biaya operasional, maskapai di seluruh dunia dipaksa menyesuaikan tarif, meninjau rute, dan memperkuat strategi lindung nilai untuk menjaga stabilitas keuangan.












