PSPK – 11 Maret 2026 | Tim Nasional Iran kini berada di ambang keputusan penting mengenai keikutsertaannya di Piala Dunia 2026 setelah eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sendiri. Konflik yang memuncak pada akhir Februari 2026 menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan dan kelayakan bagi pemain serta staf pendukung.
Pada 28 Februari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan pelaksanaan operasi militer gabungan antara pasukan AS dan Israel yang menargetkan wilayah Iran. Serangan udara tersebut dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di ibu kota Tehran.
Menanggapi serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal dan drone yang diarahkan ke sasaran di Israel, pangkalan militer Amerika di Timur Tengah, serta sejumlah lokasi strategis di negara-negara Teluk.
Situasi geopolitik yang memanas membuat posisi Iran di Grup G—bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir—menjadi tidak pasti. Meskipun secara teknis tim Iran telah lolos kualifikasi, federasi sepak bola Iran (FFIRI) masih menimbang langkah selanjutnya.
Presiden FFIRI, Mehdi Taj, menyatakan keraguannya untuk mengirim tim ke Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, dan Guatemala, negara tuan rumah Piala Dunia 2026. Ia menekankan, “Setelah serangan-serangan ini, sulit untuk membayangkan mengirim tim nasional ke tempat seperti itu dengan harapan penuh.”
Jika Iran memutuskan untuk mundur, penyelenggaraan turnamen akan kehilangan salah satu peserta yang telah terjamin tempatnya, dan grup yang telah dibentuk harus direstrukturisasi. Keputusan tersebut juga dapat menambah tekanan politik pada FIFA untuk menanggapi dinamika keamanan global yang memengaruhi kompetisi olahraga internasional.












