PSPK – 24 April 2026 | Pada Rabu (22/3/2026) Stamford Bridge menyaksikan kekalahan memalukan 0-3 dari Brighton & Hove Albion di Stadion Falmer. Kekalahan ini menandai kemenangan kelima beruntun tanpa satu gol yang dicetak Chelsea, rekor terburuk sejak 1912. Di belakang layar, pelatih asal Prancis yang baru diangkat, Liam Rosenior, tampak kehilangan kendali dan bahkan mengamuk kepada beberapa pemain usai laga.
Kekalahan Memalukan di Falmer
Serangan Brighton yang terorganisir dengan baik mengekspos pertahanan Chelsea yang rapuh. Gol pertama datang pada menit ke-12, diikuti dua gol tambahan menjelang jeda. Kekalahan ini bukan hanya menambah catatan hitam, melainkan memicu gelombang kritik dari dalam ruang ganti.
Teguran dan Julukan Pemain
Beberapa pemain mengungkapkan rasa frustrasi mereka atas keputusan taktis Rosenior. Salah satu pemain senior bahkan melontarkan julukan “guru pengganti” (supply teacher) kepada sang pelatih, menilai otoritasnya yang lemah. Julukan ini kemudian menyebar sebagai sindiran di antara skuad, menambah tekanan pada Rosenior yang sudah berada di posisi terpuruk.
Penyebab Kejatuhan dan Ketegangan Internal
Menurut laporan internal, ketidakpuasan tidak hanya datang dari taktik, melainkan juga kebijakan pemilihan pemain. Pemain muda berusia 19 tahun, Josh Acheampong, dinilai tidak mendapatkan cukup menit bermain, memicu protes dari rekan-rekannya. Selain itu, Rosenior memperkenalkan tradisi “huddle” sebelum pertandingan untuk menekankan rasa hormat terhadap bola, namun seiring waktu, sesi tersebut menjadi kurang vokal dan tidak efektif.
Keluhan pemain akhirnya mencapai puncaknya ketika Rosenior secara terbuka mengkritik performa mereka di ruang ganti. Insiden ini dikabarkan melibatkan sorotan keras kepada beberapa pemain senior, yang kemudian berujung pada keputusan manajemen klub untuk memecatnya.
Langkah Klub Pasca Pemecatan
Setelah lima kekalahan beruntun, manajemen Chelsea resmi mengumumkan pemecatan Liam Rosenior pada Rabu (23/4/2026). Callum McFarlane ditunjuk sebagai pelatih sementara hingga akhir musim, dengan tugas utama memimpin tim di Piala FA melawan Leeds United.
Dalam upaya mencari pengganti permanen, klub mempertimbangkan beberapa kandidat berpengalaman:
- Marco Silva – pelatih asal Portugal yang pernah mengelola Hull City, Watford, dan Everton. Dikenal karena kemampuan mengoptimalkan tim dengan anggaran terbatas.
- Andoni Iraola – mantan pelatih Bournemouth yang sedang bebas kontrak.
- Edin Terzic – mantan pelatih Borussia Dortmund, dipandang mampu memberikan stabilitas taktis.
- Pelatih lain yang sedang dalam radar klub namun belum diumumkan secara resmi.
John Terry, mantan kapten Chelsea, menyuarakan kekhawatirannya mengenai masa depan klub. Ia menyoroti siklus pergantian pelatih yang terlalu cepat, mengingat sejak era 2023 Chelsea telah mengganti tiga pelatih permanen. Terry menekankan pentingnya persatuan pemain untuk mengatasi kebisingan di luar lapangan.
Meski Rosenior telah menandatangani kontrak enam tahun, klub memutuskan untuk menanggung kompensasi pemecatan, mengingat kondisi finansial yang menuntut penjualan pemain dan mengurangi belanja transfer.
Dengan posisi ke-8 sementara di klasemen Liga Inggris, Chelsea kini berfokus pada perbaikan mental dan taktis untuk mengamankan tiket Liga Champions musim depan.
Situasi ini mencerminkan betapa pentingnya kepemimpinan yang kuat di ruang ganti, terutama di klub dengan ekspektasi tinggi. Apakah pengganti Rosenior dapat mengembalikan kejayaan Chelsea? Hanya waktu yang akan menjawab.












