PSPK – 10 Maret 2026 | Ramadan selalu menjadi momen penuh tantangan bagi jutaan umat Muslim di Indonesia. Salah satu keluhan yang kerap muncul di antara pelaku puasa adalah rasa pusing atau kepala berputar, meskipun telah melaksanakan sahur secara teratur. Kondisi ini tidak hanya mengganggu konsentrasi di tempat kerja atau sekolah, tetapi juga dapat menurunkan kualitas ibadah. Berikut ulasan komprehensif yang mengidentifikasi lima faktor utama penyebab kepala pusing saat berpuasa serta langkah praktis untuk mengatasinya.
Lima Penyebab Utama Kepala Pusing Saat Puasa
- Dehidrasi. Tubuh manusia terdiri atas hampir 60% air; ketika asupan cairan tidak mencukupi, volume darah menurun dan oksigen ke otak berkurang. Hal ini memicu sensasi nyut‑nyutan pada dahi. Menurut dr. Ihsanul Rajasa, Sp.PD, dehidrasi dapat berkembang menjadi kondisi berbahaya bila tidak segera diatasi. IDN Times merekomendasikan pola minum 2‑4‑2 (dua gelas saat buka, empat gelas di malam hari, dua gelas saat sahur) untuk menjaga hidrasi optimal.
- Kekurangan tidur. Bangun sahur biasanya menggeser jam tidur malam, sehingga durasi istirahat berkurang. Kurang tidur meningkatkan hormon stres, menegang pada otot leher, dan memperparah rasa pusing. Ahli kesehatan menyarankan tidur lebih awal setelah tarawih dan menambahkan power‑nap singkat 20 menit di siang hari.
- Penarikan kafein secara tiba‑tiba. Bagi pecinta kopi, mengurangi konsumsi kafein pada saat sahur dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah, menimbulkan pusing. Solusinya, kurangi takaran kopi secara bertahap atau ganti dengan teh rendah kafein, sehingga sistem saraf tidak ‘kaget’ saat tidak ada stimulasi.
- Fluktuasi gula darah akibat karbohidrat sederhana. Konsumsi makanan manis atau nasi putih berlebih saat sahur dapat menyebabkan lonjakan insulin diikuti penurunan gula darah (sugar crash). Otak merespon hipoglikemia dengan rasa lemas dan pusing. Menggantinya dengan karbohidrat kompleks seperti nasi merah, gandum, atau oatmeal membantu pelepasan energi secara perlahan.
- Gangguan elektrolit dan garam. Saat berpuasa, terutama di cuaca panas, tubuh kehilangan natrium melalui keringat. Kekurangan garam dapat mempengaruhi tekanan darah dan keseimbangan cairan, memperparah gejala pusing. Menambahkan sedikit garam alami atau mengonsumsi makanan kaya elektrolit (pisang, kelapa, yoghurt) saat sahur dapat menstabilkan kondisi.
Selain mengidentifikasi penyebab, penting bagi pembaca untuk memahami langkah preventif yang dapat langsung diterapkan. Pertama, pastikan sahur mencakup cairan cukup, elektrolit, protein, dan serat. Kedua, hindari kebiasaan mengonsumsi tiga cangkir kopi sekaligus pada saat buka; sebaliknya, pilih minuman ringan seperti teh hijau tanpa gula. Ketiga, atur jadwal tidur agar total waktu istirahat tidak kurang dari 6‑7 jam, termasuk tidur siang singkat bila diperlukan. Keempat, perhatikan tanda peringatan seperti pusing berat, penglihatan kabur, atau pingsan—jika muncul, sebaiknya hentikan puasa dan segera mengonsumsi cairan serta mencari pertolongan medis.
Dengan menerapkan pola makan seimbang, hidrasi yang teratur, dan manajemen tidur yang baik, mayoritas orang dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa pusing selama Ramadan. Kesadaran akan faktor‑faktor ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan pribadi, tetapi juga mendukung pelaksanaan ibadah yang lebih khusyuk dan produktif.












