PSPK – 09 Maret 2026 | Jakarta, 8 Maret 2026 – Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) resmi mengumumkan peluncuran rights issue sebesar 86,71 miliar saham baru. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis perusahaan untuk menggalang dana dalam rangka pelunasan utang yang menumpuk sejak beberapa tahun terakhir. Dengan nilai nominal Rp1.000 per saham, total dana yang ditargetkan mencapai sekitar Rp86,71 triliun, meski harga penawaran ditetapkan lebih tinggi mengingat kondisi pasar saat ini.
Latar Belakang Utang yang Membebani
Sejak 2020, Bakrie & Brothers telah mengalami penurunan likuiditas akibat penurunan harga komoditas, restrukturisasi proyek infrastruktur, serta dampak ekonomi makro yang melemah. Total utang jangka panjang perusahaan pada akhir 2025 tercatat mencapai Rp150 triliun, dengan rasio Debt-to-Equity (D/E) mencapai 3,2 kali, jauh di atas standar industri.
Manajemen mengakui bahwa beban bunga yang tinggi menggerogoti profitabilitas. Dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) yang digelar pada 2 Februari 2026, dewan komisaris menyarankan langkah hak memesan efek tambahan (rights issue) sebagai solusi cepat untuk memperbaiki struktur modal.
Detail Rights Issue
Rights issue yang diumumkan mencakup 86,71 miliar saham baru, setara dengan 30% tambahan terhadap jumlah saham yang beredar sebelum penawaran. Pemegang saham lama berhak menerima satu hak untuk tiap satu saham yang dimiliki, yang dapat diperdagangkan di bursa atau digunakan untuk membeli saham baru dengan harga diskon Rp1.200 per lembar, lebih rendah 20% dari harga pasar pada saat penawaran.
- Periode penawaran: 12 Maret – 22 Maret 2026
- Harga penawaran: Rp1.200 per saham
- Target dana: Rp86,71 triliun
- Tujuan penggunaan dana: Pelunasan utang jangka pendek, refinancing utang jangka panjang, dan modal kerja.
Strategi Penggunaan Dana
Manajemen menjelaskan bahwa dana yang terkumpul akan dialokasikan sebagai berikut:
| Komponen | Prosentase | Nilai (Rp Triliun) |
|---|---|---|
| Pelunasan utang jangka pendek | 45% | 38,99 |
| Refinancing utang jangka panjang | 35% | 30,35 |
| Modal kerja dan investasi strategis | 20% | 17,34 |
Dengan alokasi tersebut, perusahaan berharap dapat menurunkan rasio D/E menjadi di bawah 2,0 kali dalam dua tahun ke depan, sekaligus memperbaiki peringkat kreditnya di lembaga pemeringkat.
Reaksi Pasar dan Analis
Saat pengumuman diluncurkan, indeks LQ45 mencatat penurunan 0,8%, sementara saham BNBR mengalami penurunan 4,5% pada sesi perdagangan pertama. Analis dari beberapa rumah sekuritas, antara lain Mandiri Sekuritas dan Danareksa, menilai rights issue ini sebagai langkah yang “wajar namun menantang”. Mereka menyoroti bahwa keberhasilan penawaran sangat bergantung pada partisipasi pemegang saham lama dan minat investor institusional.
Rudi Hartono, kepala riset ekuitas Mandiri Sekuritas, mengatakan: “Jika hak memesan dapat terpakai maksimal, BNBR berpotensi memperbaiki struktur modalnya secara signifikan. Namun, risiko likuiditas tetap tinggi mengingat beban utang yang masih besar. Investor harus menilai prospek operasional perusahaan ke depan, terutama pada sektor pertambangan dan energi yang masih volatile.
Implikasi terhadap Industri dan Pemangku Kepentingan
Rights issue BNBR menjadi sorotan tidak hanya bagi pemegang saham, tetapi juga bagi kreditur, regulator, dan pelaku industri. Jika berhasil, langkah ini dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain yang berada dalam posisi leverage tinggi untuk melakukan restrukturisasi modal secara cepat melalui pasar modal.
Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya transparansi dalam penggunaan dana dan pelaporan rutin untuk memastikan bahwa dana yang terkumpul memang diarahkan pada tujuan yang telah diumumkan.
Proyeksi Keuangan Pasca-Right Issue
Berbagai proyeksi keuangan menunjukkan bahwa dengan pelunasan utang jangka pendek sebesar Rp38,99 triliun, beban bunga tahunan perusahaan dapat turun hingga 1,5 poin persentase. Hal ini berpotensi meningkatkan laba bersih menjadi Rp5,2 triliun pada tahun 2027, naik 30% dibandingkan dengan estimasi sebelumnya.
Namun, keberhasilan strategi ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi global, terutama harga komoditas seperti batu bara dan nikel yang menjadi kontributor utama pendapatan BNBR.
Secara keseluruhan, rights issue 86,71 miliar saham yang diluncurkan Bakrie & Brothers menandai babak baru dalam upaya perusahaan menata kembali struktur modalnya. Keberhasilan penawaran dan efektivitas penggunaan dana akan menjadi tolok ukur utama dalam menilai apakah perusahaan mampu kembali ke jalur pertumbuhan yang berkelanjutan.












