PSPK – 16 April 2026 | Seiring anak memasuki usia sekolah dasar, hubungan kakak‑adik mulai berubah. Perselisihan tidak lagi hanya soal mainan, melainkan melibatkan nilai sekolah, perbedaan pendapat, bahkan ejekan yang dapat menambah beban emosi orang tua.
Fase ini menjadi kesempatan penting untuk menanamkan kemandirian, empati, dan cara menyelesaikan konflik secara sehat.
1. Dorong anak menyelesaikan konflik sendiri
Ketika dua anak beradu pendapat, langkah pertama yang bijak adalah memberi mereka ruang untuk mencari solusi tanpa campur tangan langsung. Orang tua dapat menyampaikan bahwa situasi mereka dipahami dan bahwa mereka mampu menemukan jalan keluar. Memberikan kesempatan berbicara secara bergantian, merangkum poin utama, dan mengajak mereka bersama mencari alternatif solusi akan melatih keterampilan komunikasi dan tanggung jawab.
Jika emosi masih tinggi, beri jeda sekitar 30 menit sebelum melanjutkan diskusi. Untuk kasus yang berlarut, adakan pertemuan keluarga kecil untuk mengevaluasi apakah solusi yang dipilih berjalan efektif.
2. Hindari perbandingan yang memicu persaingan
Menilai anak berdasarkan prestasi akademik semata dapat menumbuhkan rasa kompetitif yang tidak sehat. Fokuslah pada perkembangan masing‑masing: beri apresiasi pada usaha, bukan hanya hasil akhir. Jika satu anak menunjukkan nilai yang meningkat, puji usahanya; jika yang lain lebih menonjol di bidang seni atau olahraga, dukung bakat tersebut.
Pembelajaran ini membantu setiap anak membangun identitas diri dan rasa percaya diri tanpa harus bersaing secara berlebihan.
3. Hentikan ejekan sejak dini
Kata‑kata seperti “kamu payah” atau “ibu lebih suka aku” dapat menimbulkan luka emosional yang mendalam. Begitu mendengar ejekan, jangan menegur di depan saudara yang lain. Alih‑alih, tunggu situasi tenang, kemudian bicarakan secara pribadi dengan tegas bahwa komentar menyakitkan tidak dapat diterima.
Jika pola ejekan berulang, susun aturan keluarga bersama dan terapkan konsekuensi yang konsisten, misalnya mengurangi waktu layar atau hak istimewa lain.
Dengan pendekatan yang tepat, perselisihan antar saudara tidak hanya dapat diredakan, tetapi juga menjadi arena belajar tentang toleransi, empati, dan penyelesaian masalah.












