PSPK – 12 April 2026 | Pada Sabtu (11 April 2026), Persebaya Surabaya kembali merasakan kepedihan setelah menelan kekalahan 0-3 di kandang Persija Jakarta, Stadion Utama Gelora Bung Karno. Pelatih asal Portugal, Bernardo Tavares, tidak segan menyuarakan kekecewaannya, menuding beberapa faktor utama yang menjadi biang kerok hasil memalukan tersebut.
Penalti yang Menjadi Titik Balik
Menurut Tavares, momen krusial pertama terjadi pada menit ke-16 ketika wasit mengangkat bendera VAR dan memberi penalti kepada Persija. Gol penalti yang dieksekusi Allano Lima dari titik 12 pas menembus gawang Andhika Ramadhani, sekaligus memecah kebekuan mental Green Force. “Gol pertama yang kami terima berawal dari kesalahan yang sangat mendasar. Itu membuat saya kecewa karena kami sudah membahas kemungkinan penalti dalam sesi latihan sebelumnya,” ujar Tavares dalam konferensi pers pasca laga.
Penalti tersebut tidak hanya mengubah skor, tetapi juga mengubah atmosfer pertandingan. Suporter Persija yang menumpuk di tribun menambah tekanan pada pemain Persebaya, membuat mereka semakin tertekan dan kehilangan konsentrasi.
Kondisi Fisik dan Cedera Pemain
Tavares menyoroti masalah kebugaran sebagai penyumbang utama kegagalan tim. Beberapa pemain inti masih dalam proses pemulihan dari cedera, namun tetap dipaksa masuk karena keterbatasan skuad. “Kami terpaksa menurunkan pemain yang belum pulih 100 persen, yang berdampak pada kedalaman lini belakang dan ketahanan fisik di fase akhir pertandingan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa latihan minggu itu memang menekankan pada skenario penalti, namun tidak cukup memperbaiki kesiapan fisik secara menyeluruh. Kekurangan stamina menjadi terlihat jelas ketika Persija menambah dua gol di babak kedua melalui Eksel Runtukahu (54′ dan 76′).
Analisis Taktik dan Mentalitas
Secara taktis, Tavares menilai timnya terlalu memberi ruang kepada lawan. “Kami memberikan terlalu banyak ruang, sehingga Persija dapat melakukan transisi cepat dan menciptakan ancaman,” kata pelatih. Selain itu, meski Persebaya menciptakan beberapa peluang, penyelesaian akhir tidak akurat. “Kami mendekati situasi di gawang lawan, namun tembakan kurang tepat sasaran,” ujarnya.
Aspek mental pun tak luput dari sorotan. Setelah gol penalti, moral pemain menurun drastis, dan mereka tampak ragu untuk melakukan serangan balik. Tavares menilai hal ini sebagai bukti lemahnya ketahanan mental tim dalam situasi tekanan tinggi.
Upaya Perbaikan dan Fokus Kebugaran
Pelatih mengungkapkan rencana segera memperbaiki tiga area utama: kebugaran, disiplin taktik, dan mentalitas. Ia menekankan pentingnya program rehabilitasi bagi pemain yang cedera serta penyesuaian beban latihan untuk meningkatkan stamina. Selain itu, Tavares berencana menambah sesi simulasi situasi tekanan, termasuk latihan penalti, agar pemain lebih siap menghadapi keputusan penting di lapangan.
- Rehabilitasi intensif bagi pemain yang belum pulih total.
- Peningkatan intensitas latihan kebugaran kardio.
- Simulasi penalti dan skenario tekanan dalam sesi taktik.
- Penguatan mental melalui workshop psikologis.
Meski hasil pertandingan tidak memuaskan, Tavares tetap memberikan apresiasi kepada Persija sebagai lawan yang layak. “Selamat untuk Persija. Kami harus menganalisa hal-hal yang tidak baik dan memperbaikinya untuk pertandingan berikutnya,” tutupnya.
Kekalahan ini menambah catatan buruk Persebaya di GBK, namun diharapkan menjadi pemicu perubahan signifikan dalam persiapan tim. Dengan fokus pada kebugaran, disiplin taktik, dan mentalitas, Green Force berharap dapat bangkit kembali dan mengembalikan kebanggaan bagi suporter setianya.












