PSPK – 18 Maret 2026 | Persija Jakarta kembali menelan kekecewaan di kandang Jakarta International Stadium (JIS) setelah dua laga berurutan berakhir imbang, memicu perdebatan di antara pemain dan staf mengenai penyebab utama kegagalan tersebut.
Kondisi Lapangan JIS Menjadi Sorotan
Bek veteran Jordi Amat menegaskan bahwa kualitas rumput di JIS belum mencapai standar yang diperlukan untuk kompetisi kelas atas. “Bola memantul terus‑menerus, kadang melaju cepat, kadang sangat lambat. Bola tidak bergulir lurus,” ujarnya kepada media. Ia menilai kondisi tersebut menghambat alur permainan dan mengurangi efektivitas taktik tim.
Statistik Performansi di GBK vs JIS
Data yang dihimpun menunjukkan perbedaan mencolok antara hasil Persija di Gelora Bung Karno (GBK) dan JIS.
- GBK: 5 pertandingan kandang, 4 kemenangan, 1 kekalahan.
- JIS: 6 pertandingan kandang, 0 kemenangan, 4 imbang, 2 kekalahan.
Keempat hasil imbang di JIS terjadi pada laga melawan Borneo FC (2‑2) dan Dewa United (1‑1), di mana Persija sempat unggul terlebih dahulu namun tak mampu mempertahankan keunggulan.
Insiden Menentukan di Menit Akhir
Pertandingan melawan Borneo FC pada 3 Maret 2026 hampir berakhir dengan kemenangan 3‑1 setelah Persija unggul 2‑1 pada menit ke‑90. Namun gol penyeimbang Borneo di menit tambahan 4 mengubah skor menjadi 2‑2. Di laga berikutnya melawan Dewa United, Emaxwell Souza yang menjadi eksekutor penalti gagal mengeksekusi dengan baik, sehingga hasil akhir tetap 1‑1.
Reaksi Pelatih dan Harapan Kedepan
Pelatih Mauricio Souza mengkritik keras kondisi lapangan JIS pasca pertandingan melawan Dewa United, menyebutnya “tidak wajar untuk menyelenggarakan pertandingan sebesar ini”. Ia menambahkan bahwa faktor teknis lapangan menjadi beban tambahan bagi pemain.
Jordi Amat menutup pernyataannya dengan harapan agar empat laga kandang tersisa musim ini dapat digelar kembali di GBK, stadion yang menurutnya “lebih baik bagi kami”. Ia percaya bahwa kembali ke GBK dapat meningkatkan peluang Persija untuk mengejar poin dan menutup jarak dengan pemuncak klasemen, Persib Bandung.
Dengan sembilan pertandingan tersisa, termasuk empat laga kandang, Persija masih memiliki peluang untuk memperbaiki posisi klasemen. Namun, jika masalah lapangan di JIS tidak segera diatasi atau tim tidak dapat memindahkan jadwal ke GBK, kehilangan poin berlanjut dapat mengancam ambisi juara.
Kesimpulannya, selain faktor taktik dan performa individu, kondisi fisik lapangan menjadi variabel penting yang memengaruhi hasil pertandingan Persija. Penyelesaian masalah rumput JIS atau pemindahan ke GBK menjadi langkah krusial bagi Macan Kemayoran untuk menghentikan tren imbang dan kembali meraih kemenangan di kandang.












