PSPK – 05 Maret 2026 | Menjelang sore hari Rabu, 4 Maret 2026, umat Muslim di seluruh Indonesia bersiap menandai akhir puasa Ramadan dengan azan Magrib. Waktu azan menjadi penanda penting bagi jutaan orang yang menunggu momen berbuka puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Berikut rangkuman lengkap jadwal azan Magrib di empat kota besar sekaligus wilayah selatan, beserta penjelasan mengenai makna dan tata cara berbuka yang sesuai dengan sunnah.
Jadwal Azan Magrib di Empat Lokasi Utama
- Jakarta: Menurut jadwal resmi Kementerian Agama (Kemenag), waktu maghrib di wilayah Jakarta pada tanggal 4 Maret 2026 berada pada rentang sekitar 17:55‑18:00 WIB. Waktu ini menjadi acuan utama bagi masyarakat Jakarta untuk berbuka puasa dan melaksanakan shalat Magrib.
- Semarang: Kemenag RI mencantumkan azan Magrib di Semarang pada pukul 18.00 WIB. Jadwal ini juga diikuti oleh waktu Isya yang dijadwalkan pada pukul 19.09 WIB.
- Enrekang (Sulawesi Selatan): Untuk wilayah Enrekang, azan Magrib diperkirakan pada pukul 18.21 WITA. Jadwal ini disusun oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI.
- Bone (Sulawesi Selatan): Di Kabupaten Bone, azan Magrib dijadwalkan pada pukul 18.19 WITA, sedikit lebih awal dibandingkan Enrekang.
Semua waktu di atas diambil dari data resmi Kemenag yang dapat diakses melalui portal bimasislam.kemenag.go.id. Masyarakat dianjurkan memeriksa kembali jadwal harian di situs tersebut untuk memastikan tidak ada perubahan mendadak.
Makna Spiritual di Balik Azan Magrib
Azan Magrib menandai terbenamnya matahari, simbol berakhirnya puasa harian. Setelah azan, umat biasanya mengucapkan doa khusus berbuka puasa yang bersumber dari Al‑Qur’an dan Hadits. Berikut contoh doa yang sering dipilih:
“Allahumma laka shumtu, wa bika aamantu, wa ‘ala rizqika afthartu, birahmatika yaa arhamar raahimiin.”
Artinya: Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih.
Doa ini mengingatkan umat bahwa puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, melainkan juga memperkuat hubungan batin dengan Sang Pencipta.
Rangkaian Ibadah Setelah Azan Magrib
Setelah berbuka, kebanyakan masjid mengadakan shalat Magrib berjamaah, dilanjutkan dengan shalat Tarawih yang biasanya dilaksanakan hingga malam. Di Jakarta dan Semarang, banyak masjid yang menyiapkan hidangan ringan (iftar) untuk jamaah, sementara di Enrekang dan Bone, tradisi berbuka bersama keluarga tetap menjadi fokus utama.
Para ulama menekankan pentingnya melaksanakan shalat Tarawih secara khusyuk, karena di bulan Ramadan pahala ibadah dilipatgandakan. Bagi yang tidak dapat hadir di masjid, shalat di rumah dengan niat yang ikhlas tetap sah.
Perbedaan Waktu Antara WIB dan WITA
Perbedaan zona waktu Indonesia (WIB untuk Jawa dan Sumatra, WITA untuk wilayah timur seperti Sulawesi) menyebabkan selisih beberapa menit antara jadwal maghrib di Jakarta‑Semarang dengan Enrekang‑Bone. Meskipun perbedaan ini tampak kecil, bagi mereka yang menunggu azan, ketepatan menit sangat berarti.
Selain itu, variasi geografis seperti lintang dan bujur memengaruhi waktu terbenamnya matahari. Karena itulah Kemenag secara rutin memperbaharui jadwal imsakiyah setiap hari Ramadan untuk mencerminkan perubahan astronomis tersebut.
Tips Praktis Mengikuti Jadwal Azan
- Gunakan aplikasi pengingat azan yang terhubung dengan jadwal resmi Kemenag.
- Pasang alarm sekitar 5‑10 menit sebelum azan untuk menyiapkan makanan dan minuman.
- Jika berada di daerah dengan sinyal lemah, simpan jadwal harian dalam bentuk cetak atau offline.
- Selalu periksa kembali jadwal pada hari berikutnya, karena perubahan menit dapat terjadi.
Dengan persiapan yang matang, umat dapat menjalankan ibadah puasa secara tertib, nyaman, dan penuh rasa syukur.
Secara keseluruhan, azan Magrib pada 4 Maret 2026 menjadi momen penting yang menyatukan umat Muslim di berbagai wilayah Indonesia. Dari ibu kota hingga pelosok selatan, setiap detik azan menandai berakhirnya puasa dan dimulainya ibadah malam yang penuh berkah.












