PSPK – 02 April 2026 | Perbincangan mengenai keamanan di lingkungan sekolah kini mengalami pergeseran. Bagi banyak orang tua, sekolah yang aman biasanya diartikan sebagai tempat yang bebas dari perundungan. Namun bagi anak dengan kondisi neurodivergent seperti autisme, ADHD, atau disleksia, rasa aman tidak sesederhana itu.
Sejalan dengan Permendikdasmen No. 6/2026 tentang “Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman”, Atelier of Minds, sebuah pusat after‑school care inklusif di Jakarta Selatan, menekankan bahwa keamanan bagi anak neurodivergent harus melampaui kebijakan anti‑perundungan. Mereka menyoroti tantangan tak terlihat seperti kesulitan memahami situasi sosial dan tekanan untuk terus menyesuaikan diri dengan standar lingkungan.
Seringkali anak neurodivergent terpaksa menutupi cara berpikir atau perilaku mereka agar tampak “normal”. Praktik ini dikenal sebagai masking dan dapat menyebabkan kelelahan emosional serta berdampak pada kesehatan mental jangka panjang.
Para ahli menegaskan bahwa menciptakan sekolah yang benar‑benar aman bagi mereka memerlukan pendekatan yang memahami cara kerja otak dan kebutuhan sensorik, yang disebut lingkungan neuro‑affirming. Lingkungan ini tidak memaksa anak untuk menyesuaikan diri, melainkan mendukung perkembangan mereka sesuai karakteristik masing‑masing.
Ries Sansani, Occupational Therapist sekaligus Lead Coach di Atelier of Minds, menjelaskan bahwa regulasi emosi anak sangat dipengaruhi oleh dukungan sensori di sekitarnya. Jika kebutuhan sensori terpenuhi, anak dapat mengembangkan kapasitas perkembangan emosional yang lebih stabil, yang pada gilirannya meningkatkan kepercayaan diri dalam berinteraksi.
Atelier of Minds bekerja sama dengan Agape Psychology, klinik psikologi berbasis Singapura, untuk mengadaptasi praktik neuro‑affirming ke konteks pendidikan Indonesia. Jeremy Ang, Clinical Director Agape Psychology, menekankan pentingnya menyesuaikan model tersebut dengan budaya lokal agar dapat berkelanjutan.
| Statistik | Nilai |
|---|---|
| Prevalensi ASD global (WHO) | 1 dari 100 anak |
| Perkiraan jumlah anak dengan ASD di Indonesia | sekitar 2,4 juta anak |
Untuk membantu sekolah menerjemahkan kebijakan menjadi praktik nyata, Ries Sansani membagikan tiga langkah sederhana yang dapat segera diimplementasikan:
- Prioritaskan keamanan sensorik: Sediakan ruang tenang, izinkan penggunaan headphone peredam suara, atau sesuaikan pencahayaan bagi anak yang sensitif.
- Berpindah dari kepatuhan ke kolaborasi: Alih-alih menghukum perilaku yang tampak tidak biasa, guru sebaiknya mencari makna di balik perilaku tersebut dan menyesuaikan pendekatan belajar.
- Kenalkan keragaman cara berpikir kepada teman sebaya: Ajarkan bahwa otak setiap orang bekerja dengan cara berbeda, misalnya dengan analogi Windows vs. Mac, untuk menumbuhkan empati dan mengurangi perundungan.
Wina Natalia, seorang figur publik dan ibu anak neurodivergent, menegaskan bahwa ketakutan terbesar orang tua bukan sekadar bullying, melainkan tekanan agar anak mengubah diri agar diterima. Ia menilai bahwa menemukan lingkungan yang menghargai neurodiversity memberikan dampak positif yang signifikan bagi keluarga.
Dalam rangka Bulan Kesadaran Autisme, Atelier of Minds bersama Agape Psychology akan menyelenggarakan serangkaian lokakarya bagi orang tua dan pendidik. Program ini bertujuan mengubah pemahaman menjadi penerimaan serta menyediakan panduan praktis untuk menerapkan pendekatan neuro‑affirming di rumah dan sekolah.












