PSPK – 30 Maret 2026 | Medan – Cheng Beng adalah ritual tahunan yang dilaksanakan oleh komunitas Tionghoa di Sumatera Utara untuk menghormati leluhur yang telah meninggal. Ritual ini biasanya berlangsung selama beberapa hari, dimulai pada akhir Maret hingga awal April.
Pada Minggu, 29 Maret 2026, ribuan warga Tionghoa memenuhi pekuburan Tionghoa di Yayasan Setia Budi, Jl. Ampera, Desa Bintang Meriah, Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deliserdang. Acara ini menandai puncak perayaan Cheng Beng yang berlangsung sejak 21 Maret hingga 5 April 2026.
Kegiatan utama Cheng Beng meliputi:
- Membersihkan dan merapikan makam keluarga.
- Menyalakan dupa dan membakar hio sebagai simbol doa.
- Menyajikan sesajen berupa buah, kue, dan lauk-pauk sebagai bentuk bakti.
- Doa bersama untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan leluhur.
- Silaturahmi antaranggota keluarga yang biasanya jarang bertemu.
“Ya, saya datang bersama keluarga dari Pekan Baru, Jakarta, dan saudara‑saudara lainnya untuk melakukan Cheng Beng. Ini adalah bentuk kasih sayang dan bakti kami kepada leluhur,” kata Wong Sun Hok, peserta dari Pekan Baru.
Di lokasi lain, Kompleks Pemakaman Desa Firdaus, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), ratusan warga keturunan Tionghoa juga memadati area pemakaman pada hari yang sama. Mereka melakukan ritual serupa dengan tujuan yang sama.
“Cheng Beng merupakan wujud bakti kami kepada leluhur. Kami datang untuk membersihkan makam, mendoakan, dan mengingat jasa‑jasa mereka,” ujar Antony Lim, yang hadir bersama anak‑anaknya.
Selain nilai spiritual, Cheng Beng berperan penting dalam melestarikan budaya bagi generasi muda. Banyak keluarga membawa anak‑anaknya ke lokasi pemakaman agar mereka mengenal sejarah dan lokasi makam keluarga, serta memahami pentingnya menjaga tradisi.
Ritual ini juga memberikan dampak ekonomi bagi penduduk setempat. Penjualan makanan, perlengkapan upacara, serta kebutuhan transportasi meningkat signifikan selama periode Cheng Beng.
Dengan ribuan peserta yang datang dari seluruh Sumatera Utara dan bahkan dari luar daerah seperti Jakarta, Cheng Beng memperlihatkan kuatnya ikatan budaya Tionghoa di wilayah ini serta komitmen kolektif dalam menghormati warisan leluhur.












