Project Seru Penuh Kejutan
Nature  

Perempuan Pesisir Maumere: Ketika Mangrove Hilang, Merekalah yang Pertama Menanggung Dampak

May 2, 2026 • 0 Views
Perempuan Pesisir Maumere: Ketika Mangrove Hilang, Merekalah yang Pertama Menanggung Dampak
Perempuan Pesisir Maumere: Ketika Mangrove Hilang, Merekalah yang Pertama Menanggung Dampak

PSPK – 02 Mei 2026 | Di sebuah gubuk sederhana di tepi pantai Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, dua generasi perempuan masih melanjutkan tradisi menyiapkan garam laut. Anastasia Puke, 64 tahun, menata taping – anyaman daun lontar untuk meniriskan garam – sementara putrinya, Maria Sufrianti, 44 tahun, menyiapkan kayu bakar.

Rutinitas memasak, menjemur, dan menjual garam telah berlangsung sejak masa nenek mereka. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, air laut semakin mudah masuk ke halaman rumah karena berkurangnya hutan mangrove di sekitar kampung.

Mangrove sebagai Penjaga Pantai

Para perempuan setempat mengingat peran mangrove pada bencana masa lalu. Saat gempa dan tsunami 1992 melanda Maumere, desa mereka selamat karena hutan mangrove menahan gelombang. Pada tahun 2017, angin puting beliung juga tidak merusak rumah mereka berkat keberadaan pohon‑pohon bakau.

Ritual tahunan “Hogor Hini” dilakukan di tengah hutan mangrove sebagai ungkapan rasa syukur dan larangan masuk kembali ke area tersebut, menegaskan nilai sakral mangrove bagi masyarakat.

Ketika Mangrove Menipis

Kehilangan mangrove berdampak langsung pada perempuan. Air asin masuk ke dapur, kayu bakar basah, produksi garam terhenti, dan pendapatan keluarga menurun. Selain beban ekonomi, mereka juga menanggung tekanan psikologis mengawasi anak‑anak saat banjir.

Penebangan Tanpa Suara

Penebangan mangrove terjadi secara tersembunyi. Ketua RT setempat, Petrus Blasing, menjelaskan bahwa area hutan tampak rimbun, namun beberapa meter ke dalam terdapat lubang‑lubang penebangan yang dibuat dengan gergaji tanpa suara. Salah satu penyebab utama adalah tambak ikan seluas hampir 7.000 m² milik seorang pejabat pelabuhan, yang meluas tanpa izin resmi dan mengikis hutan bakau.

Krisis Ekologi dan Dampaknya pada Perempuan

Data provinsi menunjukkan bahwa sekitar sepertiga luas mangrove Nusa Tenggara Timur mengalami degradasi berat. Kerusakan ini memperparah banjir rob, abrasi pantai, dan mengurangi perlindungan alami terhadap badai. Karena perempuan adalah pengelola utama rumah tangga, mereka merasakan dampak tersebut paling awal.

Usaha Pemulihan

Warga menanam kembali bibit mangrove dan memindahkannya ke pesisir lain, namun laju penebangan masih lebih cepat daripada pertumbuhan. Maria berharap, bila mangrove dijaga, kampung mereka masih dapat bertahan.

Keberlanjutan ekosistem bakau bukan hanya soal lingkungan, melainkan soal kelangsungan hidup perempuan pesisir yang bergantung pada laut untuk mata pencaharian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *