PSPK – 04 Mei 2026 | Ajax Amsterdam harus menerima hasil imbang 2-2 melawan PSV Eindhoven pada pekan ke-32 Eredivisie yang berlangsung di Stadion Johan Cruyff Arena pada Minggu, 3 Mei 2026 dini hari WIB. Pertandingan yang seharusnya menjadi ajang pembuktian bagi kiper asal Indonesia, Maarten Paes, malah berubah menjadi sorotan negatif setelah ia kebobolan dua gol, termasuk gol cepat pada menit ke-35.
Gol pertama PSV datang cepat, hanya 35 detik setelah peluit dimulai. Ricardo Pepi berhasil menyundul bola hasil umpan lemparan Yarek Gasiorowski, menembus jala gawang Maarten Paes yang masih berusaha menyesuaikan posisi. Ajax sempat menyeimbangkan kedudukan lewat gol Anton Gaaei pada menit ke-11, hasil penyelesaian umpan Mika Godts. Namun PSV kembali unggul lewat Myron Boadu di menit ke-77, memaksa Ajax bergantung pada gol tambahan dari Mika Godts pada masa injury time untuk mengamankan poin.
Statistik pertandingan menunjukkan Paes melakukan 60 sentuhan, 13 kali recoveries, namun tidak mencatatkan satu penyelamatan pun. Sepanjang sembilan penampilan bersama Ajax sejak bergabung pada Februari 2026, ia telah mengizinkan sembilan gol dan mencatat empat clean sheet. Rekor kebobolan ganda juga pernah terjadi pada laga melawan Groningen (1-3) dan Twente (1-2) beberapa minggu sebelumnya.
Kritik dari Mantan Pemain Ajax
Kritik paling keras datang dari mantan gelandang Ajax, Kenneth Perez, yang menilai Paes belum menunjukkan ketenangan yang dibutuhkan di bawah mistar gawang. “Kiper itu tidak terlalu hebat,” ujar Perez dalam program televisi “Dit Was Het Weekend”. Ia menambahkan bahwa Paes tampak tertekan setiap saat dan gagal melakukan penyelamatan yang seharusnya mudah, terutama dalam menguasai bola di area penalti.
Analisis Media Belanda
Analisis lain datang dari Hugo Borst, analis ESPN Nederland, yang menilai penampilan Paes “sangat memalukan”. Borst menyoroti kehilangan bola berulang kali tanpa alasan jelas, serta ketidakmampuan kiper modern yang harus menggabungkan penggunaan tangan dan kaki. “Ini adalah seseorang yang seharusnya tidak Anda butuhkan,” tegas Borst, menambah bahwa kehadiran Paes di Ajax terasa “aneh” mengingat standar kiper di klub tersebut.
Selain kritik individu, sejumlah media menilai keputusan Ajax merekrut Paes sebagai langkah yang kurang tepat. Paes awalnya datang sebagai kiper kedua menggantikan Remko Pasveer yang pindah ke Heracles Almelo, namun terpaksa menjadi starter setelah cedera lutut Vitezslav Jaros. Kondisi ini menambah beban mental bagi Paes, yang harus menyesuaikan diri dengan ekspektasi tinggi klub bersejarah.
Dari sisi klasemen, hasil imbang ini menahan Ajax pada posisi keempat dengan 55 poin, menyisakan dua pertandingan lagi untuk mengejar posisi kedua. Sementara PSV sudah mengamankan gelar juara sejak pekan ke-29, tekanan pada Ajax semakin besar, terutama mengingat performa defensif yang belum stabil.
Reaksi suporter juga beragam. Sebagian mengkritik Paes lewat media sosial, menuntut peningkatan konsistensi, sementara yang lain memberikan dukungan moral, mengingat usia Paes yang masih 27 tahun dan tantangan adaptasi di liga asing. Klub Ajax sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun dilaporkan pelatih akan mengevaluasi performa kiper menjelang dua laga terakhir musim.
Kesimpulannya, Maarten Paes kembali menjadi sorotan tajam setelah Ajax imbang melawan PSV. Kritik dari mantan pemain dan analis menyoroti kekurangan teknis dan mental yang masih perlu diperbaiki. Dengan hanya dua pertandingan tersisa, Ajax harus memutuskan apakah akan tetap mempercayakan Paes sebagai starter atau mencari alternatif di posisi kiper untuk mengamankan peluang juara.












