PSPK – 14 April 2026 | Turnamen ASEAN Championship U-17 2026 yang digelar di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, terus memanas sejak fase grup pertama. Di antara delapan negara peserta, dua tim unggulan—Vietnam dan Indonesia—menjadi sorotan utama. Sementara Vietnam memulai turnamen dengan kemenangan gemilang 4-0 atas Malaysia, Indonesia menutup pekan pertama dengan menundukkan Timor Leste 4-0. Kedua hasil tersebut tidak hanya mengubah klasemen sementara, tetapi juga menimbulkan kegelisahan di kalangan media Vietnam yang menilai sikap pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto, sebagai strategi mengerikan.
Vietnam Dominan, Malaysia Terkapar
Pertandingan pembuka grup A antara Vietnam dan Malaysia berlangsung pada Senin, 13 April 2026. Tim asuhan Cristiano Roland menampilkan permainan menyerang yang terorganisir, mencetak empat gol tanpa balas. Le Sy Bach membuka keunggulan pada menit ke-12, kemudian menambah satu lagi di menit ke-28. Nguyen Van Duong menambah gol ketiga pada menit ke-38, dan Nguyen Manh Cuong menutup skor di menit ke-56. Kemenangan ini menempatkan Vietnam di puncak klasemen grup dengan selisih gol +4, sekaligus menegaskan posisi Malaysia yang kini terpuruk dengan selisih gol -4.
Pelatih Vietnam, Christian Roland, mengungkapkan bahwa timnya menjalani pemusatan latihan selama sepuluh hari di Hanoi, mematangkan taktik serta meningkatkan kekompakan. “Kami datang dengan persiapan matang dan pemain terbaik karena kami tahu grup ini kuat,” ujar Roland menjelang laga pertama.
Indonesia Menunjukkan Kekuatan Melalui Kurniawan
Di pertandingan kedua, Indonesia menampilkan penampilan meyakinkan melawan Timor Leste. Garuda Muda, yang dipimpin oleh pelatih Kurniawan Dwi Yulianto, mengamankan kemenangan 4-0. Brace Putu Ekayana pada menit ke-6 dan 17 menjadi sorotan utama, diikuti gol Ridho (menit ke-36) dan Dava Yunna (menit ke-42). Kemenangan ini memberikan Indonesia tiga poin dan selisih gol +4, menempatkan mereka bersamaan dengan Vietnam di puncak klasemen grup A.
Kurniawan, yang dikenal dengan pendekatan tak taktis namun penuh disiplin, mengakui pentingnya menjaga fokus mental pemain. “Kami tidak boleh meremehkan lawan manapun, terutama Vietnam yang sudah menunjukkan kualitas tinggi,” kata Kurniawan dalam konferensi pasca pertandingan.
Media Vietnam Merasa Cemas
Setelah menonton penampilan Indonesia, sejumlah media Vietnam mengekspresikan kekhawatiran. Mereka menyoroti “sikap dingin” Kurniawan yang dianggap sebagai taktik psikologis untuk menstabilkan timnya sekaligus menimbulkan tekanan pada lawan. Dalam sebuah artikel opini, analis Vietnam menulis bahwa Kurniawan mengadopsi gaya kepemimpinan yang meminimalisir emosi, mengandalkan kedisiplinan taktis, sehingga menciptakan “strategi mengerikan” bagi tim yang mengandalkan kreativitas serba cepat.
Media tersebut menilai bahwa pendekatan ini dapat mengganggu ritme permainan Vietnam, terutama bila Indonesia mampu menahan serangan balik dan memanfaatkan peluang lewat transisi cepat. “Jika Kurniawan terus mengeksekusi taktik defensif namun tajam, Vietnam harus menyiapkan skenario alternatif,” ujar salah satu kolumnis.
Klasemen Sementara dan Jalan ke Babak Selanjutnya
- Vietnam – 3 poin, selisih gol +4
- Indonesia – 3 poin, selisih gol +4
- Malaysia – 0 poin, selisih gol -4
- Timor Leste – 0 poin, selisih gol -4
Berikutnya, Indonesia akan menantang Vietnam pada Sabtu, 16 April 2026, sementara Malaysia akan berhadapan dengan Timor Leste pada hari yang sama. Pertarungan Indonesia vs Vietnam diprediksi menjadi laga penentu siapa yang akan memimpin grup A dan melaju ke perempat final.
Strategi Kurniawan dan Dampaknya
Kurniawan dikenal dengan kebijakan selektif dalam memanggil pemain, serta penekanan pada kebugaran mental. Ia menolak menurunkan pemain muda yang belum siap secara fisik, meski aturan mengizinkan pemain berusia 16 tahun. Pendekatan ini, meski dianggap “dingin” oleh lawan, ternyata menghasilkan konsistensi performa. Pemain muda seperti Putu Ekayana dan Dava Yunna menunjukkan kematangan taktis yang luar biasa, membuktikan bahwa kebijakan keras Kurniawan tidak sekadar menakutkan, melainkan efektif.
Media Vietnam yang awalnya menilai strategi tersebut sebagai ancaman kini harus menyiapkan rencana kontingensi. Jika Indonesia mampu meniru taktik menahan tekanan sekaligus mengeksekusi serangan balik, Vietnam perlu meningkatkan intensitas pressing dan memvariasikan formasi.
Dengan dua tim utama kini berada di puncak klasemen, pertarungan selanjutnya akan menjadi sorotan utama penggemar sepak bola Asia Tenggara. Semua mata tertuju pada taktik pelatih, kesiapan mental pemain, serta kemampuan masing‑masing tim untuk beradaptasi di tengah tekanan kompetisi.
Sejauh ini, turnamen menunjukkan kualitas permainan muda yang menjanjikan, sekaligus menyoroti pentingnya kepemimpinan taktis di level junior. Apabila Indonesia berhasil menahan serangan Vietnam, strategi “dingin” Kurniawan dapat menjadi contoh bagi tim‑tim lain dalam mengelola dinamika kompetitif di level internasional.












