PSPK – 24 April 2026 | Legenda sepak bola Belanda, Ruud Gullit, kembali menjadi sorotan dunia olahraga setelah dua peristiwa penting yang menegaskan peranannya baik sebagai ikon historis maupun sebagai pengamat kritis. Pada pekan ke-34 Liga Italia 2025/2026, AC Milan resmi mengangkatnya ke dalam Hall of Fame klub bersama rekan-rekannya, Carlo Ancelotti dan Ricardo Kaka. Pada saat yang bersamaan, Gullit menyuarakan kritik tajam kepada Manchester United, menegaskan bahaya berlama‑lama terperangkap pada kejayaan masa lalu.
Hall of Fame AC Milan: Penghargaan bagi Gullit dan Rekan‑rekannya
Seremoni khusus dijadwalkan pada 26 April 2026, menjelang laga megah Milan melawan Juventus di San Siro. Nama‑nama yang masuk Hall of Fame dipilih melalui voting global para suporter Rossoneri, mencerminkan penghargaan kolektif atas kontribusi pemain‑pemain yang menjadi simbol nilai dan identitas klub.
Ruud Gullit, yang pernah mengemban jersey nomor 10 Milan pada akhir 1980-an, dikenang tidak hanya karena peran sentralnya dalam meraih dua gelar European Cup secara beruntun (1989, 1990) di bawah asuhan Arrigo Sacchi, tetapi juga karena gaya permainan yang menggabungkan fisik, teknik, dan visi kreatif. Gullit juga menjadi Ballon d’Or 1987, menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam era kejayaan Milan.
Kategori Hall of Fame tahun ini disebut “Class of 2026” dan meliputi tokoh‑tokoh seperti Franco Baresi (anggota kehormatan), serta penyerang legendaris Filippo Inzaghi, Andriy Shevchenko, dan Marco van Basten. Keputusan memasukkan Gullit bersama Ancelotti dan Kaka menegaskan bahwa kontribusi mereka melampaui sekadar trofi, melainkan menciptakan warisan budaya klub yang abadi.
Gullit Kritik Manchester United: Terlalu Fokus pada Nostalgia
Dalam wawancara yang dipublikasikan pada 24 April 2026, Gullit menyoroti paralel antara AC Milan dan Manchester United yang kini berada dalam fase transisi. Kedua klub, dulu raksasa Eropa, dianggap terlalu terpaku pada masa kejayaan mereka, sehingga menghambat inovasi dan pembangunan tim yang kompetitif.
“Manchester United terlalu memikirkan masa lalu. Itu sudah berlalu. Sama seperti Milan, itu juga masa lalu,” ujar Gullit. Ia menekankan bahwa reputasi besar tidak cukup; klub harus berani mengadopsi pendekatan baru dalam strategi, manajemen, dan pengembangan pemain. Menurutnya, hanya dengan sikap proaktif dan berani berinovasi, klub dapat kembali mendominasi liga domestik maupun kompetisi Eropa.
Pernyataan ini muncul di tengah posisi United yang berada di peringkat ketiga Premier League dengan lima pertandingan tersisa, sementara Milan menempati posisi kedua Serie A, delapan poin di belakang Inter Milan. Gullit menilai bahwa kedua tim berada pada titik krusial di mana keputusan strategis dapat menentukan masa depan mereka.
Warisan Gullit: Dari Lapangan ke Panggung Global
Karier Gullit tidak berakhir pada era pemain. Setelah pensiun, ia beralih ke dunia kepelatihan dan manajemen, termasuk menjadi asisten pelatih di klub‑klub top dan berperan dalam proyek‑proyek pengembangan sepak bola di Asia. Penghargaan Hall of Fame menjadi bukti bahwa kontribusinya tetap relevan dan dihargai generasi baru.
Gullit juga dikenal sebagai sosok yang berani menyuarakan pendapat, baik tentang kebijakan klub maupun isu-isu yang lebih luas dalam sepak bola. Kritiknya kepada Manchester United mencerminkan pola pikir yang konsisten: sepak bola harus terus berevolusi, bukan berdiam di zona nyaman nostalgia.
Implikasi bagi AC Milan dan Manchester United
Masuknya Gullit ke Hall of Fame memberikan dorongan moral bagi AC Milan menjelang laga penting melawan Juventus. Penghargaan ini tidak hanya menambah kebanggaan suporter, tetapi juga menegaskan nilai historis yang harus dijaga oleh generasi pemain saat ini.
Di sisi lain, pernyataan Gullit kepada Manchester United dapat menjadi panggilan bangun bagi manajemen klub untuk meninjau kembali strategi rekrutmen, pengembangan akademi, dan filosofi taktik. Dengan mengurangi ketergantungan pada citra masa lalu, United berpotensi membuka jalan bagi kebangkitan kembali ke puncak Premier League dan Liga Champions.
Secara keseluruhan, kehadiran Gullit dalam Hall of Fame dan komentarnya yang tajam memperlihatkan betapa seorang legenda dapat tetap memengaruhi dinamika sepak bola modern, baik melalui penghargaan simbolik maupun melalui suara kritis yang menginspirasi perubahan.












