PSPK – 12 April 2026 | Pada Sabtu, 11 April 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menyelenggarakan pelatihan pembuatan biogas dari sampah makanan skala rumah tangga di Hotel Grand Kanaya Medan, Sumatera Utara. Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat, peneliti, serta warga yang berminat memanfaatkan sampah organik sebagai sumber energi alternatif.
Dalam sambutannya, anggota DPR RI, dr. Sofyan Tan, menyoroti tantangan energi global yang dipicu oleh konflik geopolitik dan ketergantungan Indonesia pada impor minyak serta gas. Ia menekankan bahwa dulu Indonesia merupakan produsen gas, namun kini menjadi importir, sehingga gangguan pasokan energi dapat berdampak langsung pada kebutuhan dasar masyarakat, termasuk memasak.
Dr. Sofyan menekankan peran strategis BRIN dalam menyediakan solusi berbasis riset, terutama pemanfaatan sampah sebagai energi dan pupuk. Data resmi menunjukkan bahwa pada tahun 2023 Kota Medan menghasilkan sekitar 2.000 ton sampah per hari. Namun hanya 800 ton yang berhasil diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sisanya belum tertangani secara optimal, yang menjadi salah satu faktor menghambat kebersihan kota.
| Parameter | Jumlah |
|---|---|
| Sampah harian (2023) | 2.000 ton |
| Sampah yang diangkut ke TPA | 800 ton |
| Sampah tidak tertangani | 1.200 ton |
Lebih dari 50 persen sampah rumah tangga di Medan bersifat organik, memiliki potensi tinggi untuk diolah menjadi biogas. Selama pelatihan, peserta diajarkan langkah‑langkah praktis mengubah sampah organik menjadi biogas yang dapat dipakai untuk memasak, serta menghasilkan kompos sebagai pupuk alami.
- Langkah pertama: Pemilahan sampah organik dari anorganik dan B3.
- Langkah kedua: Penghancuran dan pencampuran dengan bakteri metana dalam reaktor anaerob.
- Langkah ketiga: Penyimpanan biogas dalam tangki atau langsung mengalirkannya ke kompor.
- Langkah keempat: Pengolahan residu menjadi kompos siap pakai.
Manfaat ganda tersebut tidak hanya mengurangi beban ekonomi keluarga melalui energi gratis, tetapi juga menurunkan volume sampah yang harus dikelola kota, sehingga berpotensi meningkatkan kebersihan dan kesehatan lingkungan. Sofyan Tan menegaskan, “Bersih itu sehat,” dan mengingatkan bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber penyakit.
Beberapa daerah di Indonesia telah menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan sampah, contohnya Surabaya yang sudah memiliki sistem pemilahan dan pemanfaatan sampah cukup baik. Namun, tidak semua program berjalan lancar; di Solo, program pengelolaan sampah sempat terhenti karena kurangnya partisipasi masyarakat. Ir. Prasetiyadi, peneliti BRIN, menekankan bahwa keberlanjutan proyek harus didukung oleh nilai ekonomi yang jelas serta keterlibatan aktif warga.
Ke depan, Medan berencana mengembangkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik, selain biogas rumah tangga. Diharapkan masyarakat dapat mengubah persepsi bahwa sampah hanyalah limbah menjadi sumber solusi bagi energi, pertanian, dan kesehatan publik.












